Cari Blog Ini

Sabtu, 10 Januari 2015

Nabi atau Wali?


            “Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani”.
            “Kenapa Dan? Tiba-tiba menyebut nama beliau?”

            “Sampeyan tahu Gan? Kalau kita ikut manaqiban, saya selalu terbayang-bayang ketika dikisahkan bagaimana Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani menghidupkan orang mati.” Ghani dan Hamdani asyik bercengkerama di pinggir masjid kampus. Asep yang tadi sibuk mengerjakan tugas kuliah tiba-tiba tertarik mendengar pembicaraan Ghani dan Hamdani tentang Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Maklum, Asep adalah orang baru dalam dunia tasawuf, ia selalu tertarik dengan segala pembicaraan tentang tasawuf. Terlebih salah satu tokoh populer dalam dunia tasawuf, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam acara-acara manaqib, Asep iri pada Ghani dan Hamdani yang lebih bisa memahami pembacaan manaqib karena keduanya lebih menguasai bahasa arab dibanding Asep. Kali ini, Asep tak ingin melewatkan kesempatan bisa mendapatkan sesuatu tentang apa yang sebenarnya dibacakan ketika manaqib.
            “Memangnya apa yang sebenarnya kau persoalkan Dan?” tanya Ghani.
            “Apa tidak aneh? Nabi Isa ‘alayhissalam ketika menghidupkan orang mati mengucapkan ‘qum bi idznillah’, tapi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang notabene seorang wali ketika menghidupkan orang mati beliau mengucapkan ‘qum bi idzniy’. Kok seakan-akan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani itu lebih hebat daripada nabi. Bagaimana menurutmu?”.
            “Kalau memang ternyata Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani lebih hebat dari Nabi Isa bagaimana Dan?”
            “Gak mungkin Kang, masak nabi kalah sama wali.” Asep ikut bergabung dengan percakapan seru ini. Hamdani mulai berpikir, apa mungkin seorang wali lebih hebat dari nabi.
            “Menurutmu tingkatan manusia paling tinggi itu siapa Dan?” tanya Ghani.
            “Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam” jawab Hamdani.
            “Lalu?”
            “Para rasul ‘alayhim sholatu wa salam”
            “Lalu?”
            “Para anbiya ‘alayhim sholatu wa salam”
            “Lalu?”
            “Para auliya?”

            “Dalam urut-urutan ini saja, setahuku ada banyak pendapat Dan. Ada versi yang menyebutkan seperti apa yang kau sebutkan, tapi ada juga yang menyebutkan bahwa setelah Kanjeng Nabi adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum baru kemudian para rasul. Tapi poin pentingnya, apakah derajat itu berbanding lurus dengan kehebatannya? Maksudku, apakah para anbiya selalu lebih hebat daripada para auliya? Apakah Nabi Isa lebih hebat dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani?”
            “Menurutku seharusnya demikian Gan, seorang nabi harusnya lebih hebat daripada seorang wali.”
            “Tapi wali yang satu ini bukan seorang wali biasa, beliau penghulu para wali, sulthonul auliya, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, bagaimana menurutmu?”
            “Tetap saja, maqom keduanya jelas beda. Nabi menerima wahyu langsung dari Gusti Allah sedangkan para wali tidak.”
            “Betul, betul, kau sendiri ingat bagaimana kisah pertemuan pertama Jalaludin Rumi dengan  Syamsudin Tabrizi?”
            Pertanyaan Ghani kali ini membuat Hamdani terhenyak. Sebagai orang yang menekuni tasawuf, Hamdani cukup kenal betul dengan sufi satu ini, Jalaludin Rumi. Termasuk kisah pertemuan Rumi dengan Tabrizi yang mengubah jalan hidup Rumi dari ulama legal-formal yang berkutat dalam hukum-hukum positif menjadi seorang melankolis yang jauh dair hingar bingar kehidupan dunia. Atau menurut Hamdani, dari orang yang mencintai Tuhan menjadi orang yang dicintai Tuhan. Hamdani merenungi kembali kisah pertemuan Rumi dengan Tabrizi. Rumi, seorang ulama yang juga seorang hakim masyhur di kotanya suatu hari ditemui Tabrizi, seorang darwis yang terbiasa hidup terasing dalam pengembaraan. Dalam pertemuan pertama antara keduanya, Tabrizi melontarkan pertanyaan pada Rumi.

            “Hai ulama yang agung, siapa yang lebih hebat antara Abu Yazid Al-Busthomi dan Nabi Muhammad?”
            “Tentu saja, Nabi Muhammad yang lebih hebat daripada Abu Yazid Al-Busthomi!” jawab Rumi tegas dengan pembawaan layaknya seorang hakim memutuskan suatu perkara.
            “Nabi Muhammad pernah bersabda ‘Ya Allah, aku belum mampu mengenali-Mu dengan pengetahuan sebagaimana Engkau mengenali diri-Mu’ sedangkan Abu Yazid Al-Busthomi pernah mengatakan ‘Betapa Agung muara-Ku, kemuliaan datang kepada-Ku ketika Aku diangkat, Akulah yang derajatnya ditinggikan’. Bagaimana menurutmu?
            “Tentu saja, itu karena Abu Yazid sudah terpuaskan dalam setetes pengetahuan karena wadah yang ia miliki kecil. Sedangkan Nabi Muhammad memiliki wadah yang besar sehingga setiap mendapat tetesan dari Allah beliau selalu merasa kehausan dan kekurangan” jawaban Rumi ini membuka selubung-selubung antara keduanya. Baru kali itu Tabrizi mendapatkan jawaban yang memuasakan setelah sekian lama ia mengembara dan menanyakan hal tersebut kepada para ulama namun tidak ada satupun yang memberikan jawaban yang memuaskan. Rumi sendiri baru kali itu mendapat pertanyaan yang unik dari orang yang asing yang membuat Rumi sangat menyukai Tabrizi dan menjadi sahabat sejatinya.

            “Bagaimana Dan?” Ghani memecah renungan Hamdani seolah Ghani mampu mengikuti renungan Hamdani sampai selesai.
            “Kupikir, bagaimanapun, para nabi tetap diatas para wali.”
            “Lalu bagaimana kau merasionalisasi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang mengucapkan ‘qum bi idzniy’ ketika menghidupkan orang mati?”
            “Kedewasaan Gan, kedewasaan. Para wali mungkin ibarat anak kecil yang senang dengan mainannya, barangkali itulah yang membuat para wali sering memamerkan kemampuan spiritualnya. Sedangkan para nabi sudah cukup dewasa, cukup arif, dan bijaksana melampaui sifat kekanak-kanakan orang yang senang dengan mainannya.”
            “Betul Dan, aku jadi berpikir, kalau ada wali namun tidak menunjukkan kewaliannya, tidak menunjukkan kemampuan spiritualnya, berarti tinggi betul kedudukan wali tersebut ya?”
            “Iya, Ghan. Daripada sampeyan yang kayaknya lebih tahu ilmu tasawuf, aku lebih yakin Asep ini lebih wali daripada dirimu.”
            Asep sendiri masih memandang kosong kedua sahabatnya tadi. Ia masih meraba-raba apa makna qum bi idznillah dan qum bi idzni, lalu kisah pertemuan Jalaludin Rumi dan Syamsudin Tabrizi. Hamdani dan Ghani tertawa melihat seorang wali di depan mereka.



Kamis, 30 Januari 2014

Segelas Air Sufi


            Angkringan Pak Slamet masih ramai seperti biasanya, di tengah hiruk-pikuk pusat kota yang gersang dan mendahaga. Ghani, Hamdani, dan Asep siang itu bertemu di angkringan yang menyejukkan itu. Siang yang terik membuat mereka bertiga memesan minuman pelepas dahaga. Hamdani menanyakan pada Ghani dan Asep minuman yang dipesan.
            “Ghan, mau minum apa?”
            “Air putih aja Dan”
            “Kok air putih?”
            “Ya gak papa to?”
            “Asep mau minum apa?”
            “Air putih juga kang, sama kayak Kang Ghani.”
            “Lho air putih? Gak es teh atau es jeruk aja? Aku yang bayar, santai saja. Oke Ghan?”
            “Ndak usah Dan, makasih. Lagi pengen air putih.”
            “Gak kasihan sama Pak Slamet? Air putih kan biasanya tidak bayar?”
            “Gak papa mas, air putih masih ada kok. Saya bikinkan ya, njenengan sendiri mau pesan minum apa?” Pak Slamet menimpali.
            “Eee, ya sudah pak, saya ikut saja, air putih juga.”
            Hamdani melihat sekelilingnya, siang ini semua pengunjung angkringan Pak Slamet termasuk Ghani dan Asep yang membuatnya juga ikut memesan air putih juga. Tentu saja hal ini membuat Hamdani tidak enak hati dengan Pak Slamet karena selama ini Pak Slamet selalu menggratiskan air putih.
            “Pak, tumben hari ini banyak yang pesan air putih ya” celoteh Hamdani.
            “Iya mas, air putih itu kan minuman sufi, ya seperti njenengan-njenengan ini.”
            “Hah? Minuman sufi? Kok bisa gitu pak?”
            “Tanya saja sama orang-orang yang pesan air putih ini.” Jawab Pak Slamet sambil menyajikan tiga gelas air putih untuk Hamdani, Ghani, dan Asep. Hamdani melihat di sebelah kirinya ada bapak-bapak berpakaian rapi dan parlente juga meminum segelas air putih.
            “Pesan air putih juga ya pak?” tanya Hamdani.
            “Iya mas, ini minuman yang sufistik.”
            “Kok bisa gitu pak?”
            “Iya, suatu hari ada seorang raja pergi melewati padang pasir ditemani seorang sufi. Di tengah perjalanan, raja kehausan dan hampir-hampir pingsan karena dehidrasi. Sang raja pun menepi mencari tempat berteduh. Raja ingin minum namun persediaan air sudah habis. Melihat raja yang kehausan, sang sufi bertanya kepada raja.
            ‘Wahai raja, seandainya aku memiliki segelas air, maukah engkau menukarkan segelas air putih milikku dengan setengah kerajaanmu?’ tanya sang sufi.
            ‘Tentu saja, akan kuberikan padamu asal aku tidak mati kehausan disini.’ Jawab raja. Sang sufi pun memberikan segelas air putih yang diinginkan raja. Selesai menenggak habis segelas air putih, sang sufi bertanya lagi kepada raja.
            ‘’Wahai raja, seandainya sebab engkau minum segelas air putih barusan engkau terkena penyakit parah dan saya bisa memberi obat penawarnya untukmu, maukah engkau menukarkan setengah kerajaanmu untukku?’
            ‘Tentu saja, aku tidak mau mati konyol di gurun seperti ini’ jawab raja.
            ‘Ternyata harga kerajaan yang anda miliki tidak lebih dari harga segelas air putih’ jawab sang sufi. Mendengar nasehat dari sufi, sang raja pun menangis. Minuman ini sangat sufistik sekali mas. Setiap meminum segelas air putih ini yang gratis ini, saya selalu teringat bahwa dunia dan seisinya ini sesungguhnya tidak ada nilainya sama sekali.” Mendengar jawaban bapak-bapak tadi, Hamdani tersentak. Hamdani melihat sekeliling lagi, kali ini ada seorang anak SMA juga memesan air putih. Hamdani bertanya kepada anak SMA tersebut.
            “Sampeyan kenapa minum air putih dek?”
            “Iya mas, minuman ini sufistik sekali soalnya.”
            “Oh ya? Memangnya kenapa bisa seperti itu?”
            “Begini mas, suatu hari ada seorang murid yang sangat ingin bertemu Rasulullah dalam mimpi. Ia sudah melakukan tirakat dalam waktu yang lama namun tidak kunjung bertemu dengan Rasulullah. Akhirnya sang murid bertanya kepada seorang guru sufi.
            ‘Guru, sudah lama saya ingin bertemu Rasulullah dalam mimpi, tapi entah kenapa saya tidak kunjung bertemu dengannya?’ tanya sang murid.
            ‘Kau ingin bertemu Rasulullah? Datanglah ke rumahku nanti malam’ jawab guru sufi.’ Sang murid patuh dan malamnya ia menuju rumah Sang Guru Sufi.
            ‘Bagaimana guru? Kita jadi bertemu dengan Rasulullah kan?’ tanya murid.
            ‘Sebentar, kau baru datang dan pasti lelah, ini makan dulu.’ Sang murid patuh dan segera menyantap hidangan nasi dan ikan yang sudah tersedia. Ketika sudah selesai makan, sang murid hendak mengambil segelas air putih yang juga sudah tersedia.
            ‘Tunggu, aku hanya menyuruhmu makan, tidak minum. Sekarang tidurlah’ kata guru sufi. Sang murid pun menaati, ia tidur dalam keadaan sangat kehausan. Ketika bangun tidur, ia bertanya kepada guru sufi.
            ‘Guru, saya sudah menaati semua perintahmu, tapi kenapa semalam saya tidak bertemu Rasulullah di mimpi?’
            ‘Memangnya semalam kau mimpi apa?’ tanya guru sufi.
            ‘Semalam saya hanya bermimpi minum segelas air, saya sangat kehausan’ jawab sang murid.
            ‘Itu berarti rindumu kepada Rasulullah belum serindu dirimu pada segelas air. Kalau kau benar-benar rindu kepada Rasulullah seperi rindumu kepada air ketika kehausan, engkau akan bertemu dengan Rasulullah’ jawab guru sufi. Benar-benar minuman sufistik ya mas? Setiap melihat segelas air, saya selalu ingat bahwa jangan-jangan selama ini saya lebih mendambakan segelas air daripada mendambakan Rasulullah” Hamdani senyum  kosong, ia mulai menyadari ternyata air putih ini sufistik sekali. Selama ini ia pikir minuman para sufi adalah kopi karena bisa menjadi teman untuk bertirakat tidak tidur di malam hari. Hamdani menoleh ke sebelah kiri. Ada seorang tukang becak sedang meminum segelas air putih. Hamdani bertanya makna minuman air putih kepadanya.
            “Pak, seger sekali sepertinya pak. Njenengan juga pesan air putih?”
            “Oh, iya mas. Habis ini minumannya sufistik sekali.” Jawab tukang becak.
            “Sufistik bagaimana pak?” tanya Hamdani.
            “Begini mas, suatu hari ada seorang syaikh bertamu kepada seorang raja. Raja ini meskipun singgasananya mewah, istrinya cantik, hartanya banyak, kebunnya luas, hewannya banyak, namun ia adalah seorang sufi. Syaikh tadi ingin komplain kepada sang raja.
            ‘Hai raja, bagaimana mungkin engkau mengaku sebagai sufi sementara kau hidup dengan penuh kemewahan dan kemegahan dunia. Lihat rumahmu, istrimu, hartamu, dan semuanya. Ternyata kau masih tergoda pada dunia.’ Mendengar hal tersebut, sang raja tersenyum dan mengajak syaikh masuk ke dalam rumah dan memberikan padanya segelas air putih.
            ‘Wahai Syaikh, silahkan anda berkeliling rumah saya, lihat dan nikmatilah semuanya seharian ini. Anda boleh menaikki hewan-hewan saya, memetik buah-buah saya, dan bermain-main sepuasnya. Tapi ada syaratnya, anda harus membawa segelas air putih ini dan jangan sampai tumpah’
            ‘Memangnya kalau tumpah bagaimana?’
            ‘Anda akan pulang tanpa kepala’ syaikh tadi bergidik. Ia berkeliling ditemani pengawal raja. Setelah seharian berkeliling, raja menemui syaikh.
            ‘Bagaimana syaikh? Sudah puas berkeliling?’ tanya raja.
            ‘Bagaimana aku akan menikmati semuanya sementara kalau air dalam gelas ini tumpah aku bisa pulang tanpa kepala’ jawab syaikh.
            ‘Seperti itulah gambarannya syaikh. Semua kesenangan dunia ini tidak mampu menumpahkan sedikit pun cintaku kepada Allah.’ Benar-benar sufistik sekali mas pokoknya air putih ini. Setiap melihat segelas air putih, saya selalu termenung membayangkan berapa kali saya menumpahkan air cinta dari gelasnya namun Allah tidak segera memenggal kepala saya.” Tukang becak tadi mengakhiri ceritanya dan membuat Hamdani menatap kosong pada air putih di depannya. Di sampingnya, Asep sudah hampir menghabiskan air putihnya. Hamdani bertanya kepada Asep, jangan-jangan Asep juga punya makna tersendiri tentang minuman air putih yang sufistik ini.
            “Asep, sampeyan pasti punya makna sufistik juga untuk air putih ini. Ayo cerita”
            “Hahaha, tahu saja kang. Ini minuman memang sufistik. Suatu hari ada seorang murid menemui guru sufi. Murid tadi sedang sedih karena ditimpa musibah yang menurutnya sangat menyedihkan. Ia ingin meminta petunjuk dari guru sufi tentang kesedihannya. Guru sufi memberikan murid tadi segelas air putih dan sesendok gula. Guru sufi menyuruh murid itu untuk mengaduk gula dalam segelas air putih dan menyuruhnya untuk meminumnya.
            ‘Bagaimana rasanya nak?’
            ‘Manis guru, apa artinya?’
            ‘Kenapa air itu rasanya manis?’
            ‘Karena ada gula yang tercampur di dalamnya guru’
            ‘Sekarang kalau kau mencampurkan gula tadi di laut, apakah laut akan menjadi manis?’
            ‘Tentu tidak guru, laut itu sangat luas dan dalam’
            ‘Begitulah hatimu nak. Jika hatimu hanya sedalam air di gelas ini, sedikit gula akan merubah rasamu. Tapi jika hatimu seluas lautan, rasamu tetap tidak akan berubah meski ditambah gula maupun garam.’ Nah, itu kang. Minuman ini sufistik sekali ya? Setiap meminum segelas air putih seperti ini, saya selalu berpikir jangankan seluas lautan, sepertinya hati saya bahkan tidak lebih luas dari gelas ini. Semoga dengan minum segelas demi segelas kesabaran maka saya menjadi lautan.” Hamdani kaget, ternyata Asep juga menyadari makna sufistik dari segelas air ini. Hamdani belum puas, pasti Ghani juga punya makna tersendiri.
            “Sampeyan gimana Ghan? Apa makna sufistik dari segelas air putih ini?” tanya Hamdani. Ghani tersenyum mendengar Hamdani. Hamdani mengernyitkan mata. Ghani berdiri, ia merapikan baju lalu berdeklamasi.
            “Kutelan setenggak demi setenggak. Darinya sumsumku tegak. Kuresapi sejuknya dalam kebeningan. Ini tidak lain dari hujan. Kulihat langit kupinta hujan. Tuhan menutupinya awan. Kusibak awan mencari Tuhan. Tuhan mengirimiku hujan. Kesadaranku oleh sebab Lafadz-Nya. Aku ingin sampai pada Sang Maha Semua. Kemabukanku atas tatapan-Nya. Membuatku aku semakin dahaga. Aku mabuk pada setiap gelas. Dalam bening yang bebas. Jika langit mulai gelap tak bersinar. Apakah bedanya mabuk dan sadar. Kutenggak lagi minuman kami. Darinya kami merdu bernyanyi. Aku heran dengan orang yang tak berdahaga. Sementara air ini nikmat penuh cinta. Kemurnian-Nya dalam kebeningannya. Kesegarannya seperti cinta dari-Nya. Aku minum cinta segelas demi segelas. Tetap saja dahagaku tak kunjung puas.” Ghani duduk kembali, ia meminum seteguk air putih lalu tersenyum kepada Hamdani. Ada getaran tersendiri ketika Hamdani mendengar kata-kata Ghani. Hamdani menyelam pada lautan hatinya mencari kedalaman makna air putih dalam gelas yang ada di depannya. Pak Slamet jangan-jangan juga mempunyai nilai sufistik ketika memandang air putih ini.
            “Kalau saya cuma ingin seperti air putih mas” tiba Pak Slamet berkata kepada Hamdani. Hamdani kaget, belum juga ia sempat bertanya, Pak Slamet sudah menjawab lebih dahulu.
            “Maksudnya bagaimana pak?”
            “Air putih adalah air yang ada di mana-mana. Ia bisa diminum orang kaya maupun miskin. Ia bisa berada di langit tertinggi maupun lautan terdalam. Ia bisa membeku maupun menguap. Tapi tetap, ia adalah air putih. Tidak punya warna, tidak punya rasa, tidak punya bau. Ia suci dan mensucikan. Ia bukan zam-zam yang terlampau mulia. Bukan pula air comberan yang hina. Air putih adalah air netral. Lambang kemurnian, kesucian, keikhlasan. Air putih adalah sufi mas.”
            Hamdani tertegun. Ia mengambil gelas di depannya dan meminum perlahan. Pikirannya berkecamuk. Di sekelilingnya ternyata penuh orang-orang sufi. Tidak hanya itu, ia baru saja meminum minuman sufi yang disebut air putih. Atau mungkin, meminum air putih yang disebut minuman sufi.



Senin, 02 Desember 2013

Ketika Wali Mogok


            “Ayo ikut simbah cah bagus”

            “Kemana mbah?”

           “Ketemu teman-teman simbah”. Ghani menurut saja, ada yang aneh dengan kakek satu ini. Di sebuah perempatan yang terletak di bagian selatan kampus, sepulang kuliah Ghani bertemu dengannya. Ketika berpapasan, mata sang kakek melihat mata Ghani secara mendalam seperti menerawang isi jasadnya. Ghani mengucap salam padanya, lalu sang kakek menjawabnya serta memegang tangan Ghani dan meminta Ghani mengikutinya. Ghani penasaran dengan kakek ini, Ghani pun mengikutinya.

            Ghani tiba di sebuah tempat yang gelap, masih dengan segenap keheranannya. Sepi, hanya Ghani dan kakek tua yang membersamainya di tempat tersebut, mereka terus berjalan dan memasuki sebuah ruangan yang besar, penuh cahaya. Di dalamnya sudah berkumpul banyak orang, di belakang Ghani juga masih menyusul sejumlah orang yang memasuki ruangan tersebut. Ada yang datang dengan menggunakan permadani, ada yang tiba-tiba muncul begitu saja, ada yang keluar dari dasar lantai, ada yang menggunakan kuda, ada yang menembus dinding, dan sebagainya.

            “Siapa mereka mbah?’
            “Kekasih Allah, cah bagus”
           Wali? Ghani berada di antara para wali. Sedang apa mereka disini? Kenapa Ghani juga berada disini? Ini tempat apa? Berbagai pertanyaan mengganjal di benak Ghani. Disaat Ghani merasa takjub dengan sejumlah keanehan para wali, Ghani juga bingung karena semuanya menunjukkan gerak-gerik yang kurang bergairah. Semacam sedih, cemas, khawatir, atau apapun itu. Ghani melihat ada yang sedang menangis, ada yang sedang berdebat, ada yang berusaha melerai, ada yang memberi komando kepada sebuah rombongan, dan sebagainya.

            “Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh”. Sebuah suara terdengar. Serentak semua yang hadir menempati tempat duduknya masing-masing. Seseorang berdiri di mimbar dengan wajah datar, melihat luas ke arah orang-orang yang hadir. Ghani duduk di samping kakek tua yang membersamainya.

            “Terima kasih atas kedatangan anda sekalian. Sebagaimana yang kita ketahui, dunia perwalian sedang menghadapi konflik. Kita harus segera memutuskan suatu hal yang kita sepakati bersama disini demi kemaslahatan umat manusia. Untuk mengawalinya, saya mohon Wali Ghauts untuk menyampaikan fenomena yang sedang kita hadapi”.  Salah seorang pria berjubah naik ke mimbar di sebelah kanan mimbar utama.

            “Saudara-saudaraku, hari ini saya nyatakan bahwa dunia kita sedang kritis. Kita sudah tidak dipercaya lagi oleh para umat manusia. Mengapa saya berkata demikian? Lihat saja fakta bahwa umat manusia mulai menjauhi ajakan kita kepada jalan baginda kita Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa salam. Mereka juga tidak mempercayai kita lagi dan menjauhi kita. Banyak thoriqoh membubarkan diri karena tidak memiliki jama’ah dan penerus, para mursyid juga kesulitan mencari badal. Madrasah-madrasah maupun zawiyah juga sepi. Orang-orang tidak percaya pada guru tapi lebih percaya pada buku dan internet. Manusia mempermainkan kedudukan kita sebagai lelucon. Semua laku prihatin kita yang mengakomodir mereka sebagai tanggungan kita dilecehkan seenaknya. Banyak orang mengaku wali, bahkan para wali mastur juga tergoda untuk menunjukkan karomahnya di hadapan umum demi popularitas. Pada puncaknya beberapa hari lalu salah seorang dari dewan Wali Abdal dicopot pangkat kewaliannya oleh Allah SWT karena gagal berdakwah pada kaum di wilayahnya. Sebelum acara pertemuan ini diselenggarakan, pihak perwakilan dari dewan Wali Abdal mengusulkan supaya kita mogok massal dari aktivitas kewalian kita. Sementara dari dewan Wali Abdal mengusulkan supaya kita berdemo kepada Allah SWT dan meminta-Nya untuk mengembalikan pangkat kewalian saudara kita dari Wali Abdal. Sementara dua dewan wali tadi masih sebatas usul, dewan Wali Akhyar melaporkan bahwa sebagian anggotanya telah meninggalkan wilayah kerjanya dan mengasingkan diri. Dari dewan Wali Autad mengusulkan supaya kita melakukan konsolidasi bersama Sulthonul Auliya Sayyidina Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Bahkan jika perlu, kita semua datang ke hadhirat Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa salam. Mohon kepada Wali Quthb untuk memberi kebijaksanaannya tentang apa yang harus kita lakukan sebelum satu persatu para wali mengikuti arus untuk meninggalkan wilayahnya dan berakibat para umat manusia tidak ada lagi yang menanggung mereka. Demikian laporan dari saya, terima kasih.” Pihak dewan Wali Ghauts pun turun dari mimbar.

            “Terima kasih atas laporan anda. Berikutnya saya ingin mendengar penuturan dari saudara kita dari dewan Wali Abdal supaya menceritakan kronologis kasus yang menimpa mantan anggotanya serta mendengar langkah berikutnya dari dewan Wali Abdal selaku rekan sejawat.” Salah seorang pria berjenggot putih lebat naik ke mimbar sebelah kiri.

            “Mogok! Kita harus bekerja sama!”. Hadirin menjadi riuh ramai. Sekelompok orang menyatakan kesetujuannya, sebagian lain menolaknya.

            “Tenang saudaraku, ceritakan baik-baik” Wali Quthb mencoba menenangkan.

            “Ada beberapa poin yang membuat kami mengusulkan untuk pemogokan masal tuanku. Pertama, tentang kasus saudara kami. Ia diamanahi menjaga wilayahnya yaitu sebuah kepulauan di daerah timur raya, namun ia sering diabaikan. Baiklah, kita para wali memang biasa diabaikan, tapi sudah puluhan tahun ia menjaga wilayahnya dan manusia di sekitarnya justru semakin tambah menjauh dari ajaran baginda Rasulullah SAW. Kinerjanya menjaga wilayahnya dievaluasi dan akhirnya diputuskan bahwa Allah mencabut kewaliannya. Saya pikir banyak di antara kita juga mengalami hal tanggapa yang sama di antara masyarakat, dan jika demikian terus menerus, satu persatu di antara kita kelak akan dicabut kewaliannya. Kedua, mereka menghancurkan makam-makam wali pendahulu kita. Kita memang tidak butuh dibangunkan makam, namun keberadaanya adalah bukti adanya jejak kita. Selain itu banyak masyarakat yang mencari nafkah di dekat makam pendahulu kita sebagai pedagang atau semacamnya. Jika satu persatu makam dihancurkan, selain kita merugikan para umat manusia yang mencari nafkah, orang-orang akan melupakan kita akhirnya terhentilah doa-doa dari mereka lewat kita yang justru mereka butuhkan untuk diri mereka. Ketiga, kita perlu memberi peringatan kepada umat manusia tentang apa yang terjadi jika para wali tidak ada, jika wilayahnya dibiarkan untuk diurus umat manusia sendiri, kekacauan apa yang akan terjadi. Untuk itu, kami dewan Wali Abdal mengajukan petisi untuk menyelenggarakan mogok bersama hingga Allah mengembalikan pangkat kewalian saudara kita. Terima kasih Tuanku.” Pria tersebut turun disambut sambutan meriah

            “Setujuuu..!”

            “Mogok, mogok, mogok!”

            “Kembalikan saudara kami!” Berbagai suara menyeruak di antara forum tersebut. Hingga akhirnya Wali Quthb meminta untuk diam.

            “Baiklah, saya butuh 1 bukti lagi yang menguatkan bahwa apa yang disampaikan dewan Wali Abdal dan dewan Wali Ghauts tadi benar adanya.”

            “Saya Tuanku, saya membawa bukti tersebut kesini” kata seseorang yang berdiri sambil mengacungkan tangan. Ia maju ke mimbar sebelah kiri sambil membawa seorang laki-laki bertampang serius.

            “Silahkan Wali Akhyar”

           “Terima kasih Tuanku, saya kesini membawa salah seorang dari sekelompok manusia yang menentang kita. Mohon izin supaya ia berbicara menyuarakan pendapatnya tentang kita.”

            “Tentu, silahkan”

            “Hei kalian orang-orang yang mengaku wali Allah! Berhentilah mengaku-ngaku sebagai wali. Kalian pikir aku mudah dibohongi? Kalian mengatakan membawa ajaran Rasulullah tapi nyatanya banyak ajaran yang kalian inovasikan dan berbeda dengan Qur’an dan Hadits! Amal-amal ibadah kalian yang tidak ada dalilnya, pengikut kalian yang hanya taqlid buta, memuja kalian melebihi pujaan kepada Allah, gaya hidup kalian yang katanya zuhud namun berpakaian mewah, rumah megah, kalaupun tidak demikian maka kalian banyak yang hidup menyendiri di hutan atau gunung dan tidak mau bermuamalah dan bercampur dengan masyarakat. Dan semua itu membuat kalian justru merasa semakin tinggi derajat kalian dan dekat dengan Allah, terlebih mengaku sebagai wali Allah. Tidak! Sesungguhnya kamilah yang lebih layak disebut wali Allah. Kami menjalankan perintah Allah sesuai Qur’an dan Hadits, kami berislam secara kaffah, kami memerangi orang kafir, kami memperjuangkan syari’at Islam, kami memberantas penodaan terhadap Islam, kami memberangus semua pemujaan kepada selain Allah. Kami yang lebih layak menjadi wali Allah dan masuk surga dibanding kalian. Bubarlah dari forum ini, bertaubatlah, lalu ikutilah jalan kami.” Sontak forum menjadi ricuh, sejumlah hadirin sempat maju untuk menghampiri mimbar sebelah kiri. Sedangkan lelaki yang barusan bicara tidak takut dengan apa yang telah ia katakan.

            “Baiklah hadirin, apakah semua sepakat untuk mogok?” Wali Quthb menanyakan kepada hadirin. Lebih dari 90% menyatakan setuju, sedangkan sisanya memilih diam. Sebagian diantara 10% itu menangis tersedu-sedu. Kakek tua yang membersamai Ghani melihat Ghani ikut berkaca-kaca matanya.    
            “Ada apa cah bagus?”
            “Mbah, apa ini benar?”
            “Memangnya kenapa?”
            “Tidak mungkin para wali mogok, ini bercanda kan?’
            “Para wali tidak pernah bercanda cah bagus.”
            “Tapi aku tidak setuju mbah.” Kakek tua tersebut berdiri dan mengacungkan tangan.
            “Tunggu sebentar, ada yang mau menyampaikan sesuatu. Silahkan wahai wali hawariyyin.”
            “Wali? Hawariyyin? Engkau juga seorang wali mbah?” Ghani memandang sang kakek.    
            “Ayo, majulah cah bagus. Sampaikan ketidak-setujuanmu, siapa tahu engkau bisa memberikan pengaruh.”
            “Tapi apa yang harus saya katakan mbah?” Ghani masih kebingungan bercampur panik.
            “Tuanku, sebelum anda memberi keputusan, ijinkan saya juga membawa salah seorang umat manusia untuk memberi keterangan tambahan yang barangkali bisa menjadi pertimbangan kita semua disini.” Kakek tua tadi menarik tangan Ghani dan membawa Ghani ke mimbar sebelah kanan. Ghani masih panik, namun kakek tua mengusap punggung Ghani dan Ghani merasakan sesuatu di dalam dadanya. Ghani siap untuk bicara.

            “Salam kepada para junjunganku, kekasih-kekasih Allah yang dimuliakan langit dan bumi, maafkan kelancangan saya berbicara disini. Jujur, saya panik berada di antara anda semua. Terlebih, mendengar bahwa anda semua merencanakan untuk mogok. Saya mohon dengan sangat untuk tidak merealisasikannya. Hal itu dapat mengacaukan keseimbangan alam. Anda semua adalah tiangnya langit,  sekaligus jangkar bumi. Dalam wirid dan doa anda semua tak lupa terselip kebaikan-kebaikan untuk umat manusia. Dalam ketaatan anda semualah kami merasakan semburat cinta Ilahi dan pancaran kasih sayang nabi. Kalaupun ada di antara kami yang tidak sesuai dengan yang anda semua harapkan, percayalah bahwa itu hanya sedikit dari umat manusia yang belum mengenal anda semua. Apa jadinya jika anda semua mogok sementara jika tidak mogok saja kekacauan masih banyak terjadi. Saya tidak bisa membayangkan bumi yang jauh dari zuhud, tawadhu’ wara, qana’ah, dan berbagai akhlak indah yang telah menjadi budi pekerti anda semua. Jikalau ada orang seperti tadi yang menyeru untuk kembali ke Al-Qur’an dan Hadits dan mengajak untuk meninggalkan anda semua, maka lihatlah orang tersebut. Betapa mereka mengajak untuk tidak memuja selain Allah namun mereka memuja diri mereka sendiri, merasa dirinya yang terbaik. Namun berbeda dengan anda semua, sekalipun ilmu anda semua dalam, anda semua tak pernah merasa lebih baik dan tidak terbelenggu egoisme. Anda semua warisan para Nabi, jika hilang warisan, apalagi yang kami punya? Mohon pertimbangan untuk tidak merealisasikan pemogokan ini, demi kebaikan bersama.” Hadirin kembali ramai, ada yang mendukung Ghani, ada yang menyanggahnya. Wali Quthb kembali mengambil alih forum.
            “Saudaraku yang kumuliakan, persoalan ini sungguh pelik. Lauhul Mahfudz menutup pintunya, pihak Malaikat juga berlepas diri, baru saja aku meminta isyarah kepada Nabi Khidhir ‘alayhissalam, dan aku mendapat isyarah bahwa beliau menyerahkan keputusan kepadaku. Seandainya aku meminta isyarah kepada Sayyidina Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan Rasulullah SAW sekalipun, aku yakin jawabannya tetap sama. Ini adalah ujian kolektif dari Allah bagi kita semua. Aku mengusulkan untuk uji coba pemogokan selama 3 hari. Kita akan lihat bisakah manusia menjaga wilayahnya sendiri. Dan di antara hal-hal yang akan kita lakukan selama kita mogok adalah; menyembunyikan diri dari hadapan manusia, berhenti menjadi wasilah doa manusia, menghentikan aliran doa-doa kita kepada manusia, menyembunyikan makam para wali pendahulu kita, dan terakhir, membuka pintu langit sehingga lalu-lintas adzab dan siksa Allah dapat turun dengan lancar. Bagaimana dewan Wali Ghauts, Abdal, Autad, dan lainnya?” Hampir semuanya menyatakan persetujuan. Ghani memandang tidak percaya. Kakek tua mengelus kepala Ghani dan tersenyum. Forum akhirnya memutuskan mulai saat itu para wali mogok, dan seketika semua keluar dari tempat tersebut. Ghani masih bergejolak hatinya. Ghani diantar pulang kakek ke tempat semula ketika bertemu sang kakek.

            “Hati-hati ya cah bagus”
            “Mbah, apa tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mencegah mogok?”
            “Sampeyan punya Gusti Allah cah bagus, sampeyan milik-Nya, bukan milik para wali.”
            “Tapi mbah, saya harus bagaimana?”
            “Pulanglah cah bagus,” kata sang kakek. Ghani masih kosong pandangannya tanpa sadar sang kakek mulai pergi menjauh. Ghani pulang ke pondoknya, sementara ini semua masih baik-baik saja.

            Seperti biasa, setelah sholat maghrib Ghani mengirimkan bacaan Al-Fatihah kepada para wali. Saat itulah Ghani mulai merasa aneh, ia tidak bisa sama sekali mengingat nama-nama wali yang ia hafal. Ghani masuk ke kamar untuk membuka kitab-kitab karya para wali, namun entah kenapa Ghani mendadak tidak bisa membacanya. Ghani menanyakan ke teman-temannya, ternyata mereka juga mengalami hal yang sama. Seketika orang-orang sepondok heboh mengalami keanehan serupa, ada yang tidak beres dalam benak mereka. Keesokan paginya, matahari tidak secerah biasanya. Gunung merapi di ujung utara dikabarkan aktif secara tiba-tiba. Hal serupa terjadi di sejumlah gunung di tempat lain. Angin kencang mulai sering bertiup menyapu daerah-daerah yang mengakibatkan putting beliung, hingga badai topan. Beberapa negara ada yang sudah mengalami gempa dan tsunami dahsyat. Selama sepekan, sejumlah peristiwa besar terjadi, bencana alam merebak, kriminalitas meningkat tajam, masjid-masjid dan pesantren menjadi tempat pelarian orang-orang yang ingin menyelamatkan diri namun disana mereka tidak mendapati siapa-siapa. Ketika segalanya menyadari bahwa hal tersebut adalah tanda-tanda kiamat yang sangat dekat, Ghani ingat bahwa ini sudah lebih dari sepekan dari 3 hari rencana pemogokan para wali. Ghani menuju ke tempat ketika bertemu sang kakek, di sana ia mengucapkan salam dengan lirih, “assalaamu ‘alaykum yaa Waliyallah, assalaamu ‘alaykum yaa Waliyallah, assalaamu ‘alaykum yaa Waliyallah”. Seketika dari belakang Ghani merasa tangannya ditarik oleh seseorang yang ternyata adalah kakek yang dulu ia temui.
            “Aku tahu cah bagus akan kembali lagi, tapi ketahuilah, tidak ada wali yang menjawab salammu. Bahkan, tidak ada lagi yang bernama wali.”
            “Apa maksud simbah tidak ada wali?”
            “Semua wali yang kau temui kemarin sama-sama mencopot pangkat kewalian demi solidaritas saudara mereka yang dicopot kewaliannya lebih awal.”
            “Termasuk simbah juga kah? Bagaimana dengan para pemimpin wali?”
            “Mereka juga sama-sama melaksanakan keputusan yang telah disepakati bersama. Namun meski demikian, kami tetap bisa berkomunikasi satu sama lain untuk saling berbagi kabar wilayah masing-masing. Dan hari ini sudah kuundang para wali untuk menyelenggarakan sidang darurat. Ayo, ikut simbah lagi.”
            “Eh, iya mbah.” Dan seketika Ghani kembali ke tempat pertemuan para wali. Kali ini semua datang dengan jalan kaki, dengan ekspresi yang datar, tidak sedih dan tidak senang. Sang kakek yang membersamai Ghani memimpin sendiri. Ghani menemaninya di samping.
            “Saudaraku yang kumuliakan, sudah sepuluh hari semenjak kita mogok, alangkah baiknya kita mengevaluasi keputusan kita ini. Sebagaimana kita ketahui di wilayah kita masing-masing, berbagai ketidakseimbangan menjadi ketakutan bagi umat manusia yang tidak memiliki penuntun. Matahari tak memancarkan sinar, tumbuhan tak mau tumbuh, sungai tak mau mengalir, hujan tak mau turun, hewan tak mau keluar dari sarang, cepat atau lambat hari yang dijanjikan tiba tanpa ada yang mengawal manusia. Karenanya, saya mohon suara dari saudara-saudara apakah pemogokan ini tetap dilanjutkan, atau kita kembali dengan tugas kita membimbing umat manusia dalam riyadhoh-riyadhoh fisik dan batin sebagaimana sebelumnya?”
            “Tetap mogok, kami nyaman seperti ini, kami capek mengurusi umat manusia” kata salah seorang hadirin.
            “Buat apa mengurusi manusia yang suka membangkang?” yang lain menambahi
            “Jika saudara kita sudah dikembalikan pangkat kewaliannya, baru kita kembali dengan tugas kita,” dan berbagai tambahan-tambahan lain membuat forum menjadi sangat ramai. Hampir semuanya enggan untuk berhenti mogok. Sang kakek memandang Ghani sambil tersenyum. Ghani memberanikan diri naik ke mimbar sebelah kanan.

            “Wahai junjunganku, kekasih-kekasih Allah yang aku muliakan. Anda semua sering menyebut-nyebut saudara anda yang telah dicopot kewaliannya, namun saya belum tahu kondisi beliau saat ini. Alangkah baiknya kita mendengar kesaksian beliau.” Hadirin menyetujui usulan Ghani, sang kakek turun dari mimbar menuju balik panggung dan membawa seseorang dengan pakaian rapi dan wajah cerah dihiasi senyum. Sang kakek mengantar orang tersebut ke mimbar sebelah kiri dan memberi kesempatan padanya untuk bicara.

            “Saudara-saudaraku para mantan kekasih Allah…..” serentak hadirin menjadi gaduh, merasa heran dengan kata-kata pembukanya.
            “30 tahun aku menjaga wilayahku, namun  tidak ada satupun yang mengikutiku, dan aku senang. Aku mendoakan kebaikan kepada manusia di wilayahku, bukan kebaikan yang bertambah, namun justru semakin memburuk, dan aku tidak peduli. Aku sampaikan amanat Rasul mulia, namun mereka semakin menjauhiku, aku tak ada masalah. Aku tetap menjalankan tugasku sebagaimana mestinya. Aku menikmatinya meski tidak mendapat hasilnya. Hingga akhirnya Allah menaikkan derajatku dengan mencopot kewalianku.” Hadirin terdiam dan menerka-nerka maksud kata-kata terakhir yang diucapkan.
            “Barangkali anda bingung, derajat apa yang saya capai saat ini. Allah mencabut pangkat kewalian saya, dan itu adalah salah satu hal yang saya harapkan sejak 30 tahun yang lalu. Allah mengabulkan doa saya, dan saya kini menjadi manusia biasa namun dengan tugas yang sama seperti layaknya wali. Saya menjaga wilayah saya, membimbing manusia, mendoakan mereka, tanpa ada tendensi bahwa saya adalah wali, bahwa saya melakukan ini hanya untuk menyelamatkan pangkat kewalian saya, sama sekali tidak. Saya hanya senantiasa menikmati proses lelaku tanpa melihat ke depan, namun ke atas. Saya merasa nyaman dengan hal ini, hati saya merasa lebih ringan tanpa beban, dan wajah saya selalu terasa sejuk. Saya merasa lebih nikmat daripada ketika menjadi wali.” Semuanya terdiam. Banyak di antara hadirin menangis, beristighfar, dan meneriakkan asma Allah yang menggema.

            “Saran saya, kembalilah menjalani tugas anda semua dan nikmatilah. Tak usah mempedulikan saya, saya nyaman seperti ini. Terima kasih.” Orang tersebut turun dari mimbar menuju belakang panggung. Dari sisi yang lain, muncullah Wali Quthb, pimpinan para wali menuju mimbar tengah. Wali Quthb meminta suara tentang pemogokan para wali apakah dilanjutkan atau dihentikan. Semuanya sepakat menghentikan mogok dan kembali menjalankan tugasnya. Wali Quthb memutuskan untuk kembali bersama-sama menjalankan tugas kewalian. Ghani dan sang kakek berpandangan sambil tersenyum. Sebelum hadirin kembali pulang, Wali Quthb memberi pesan penutup.

            “Pada akhirnya, apa yang kita lakukan bukan karena tuntutan, dan bukan karena tujuan. Semuanya dibingkai dalam cinta Allah. Maka ketika tidak ada tuntutan, kita masih menikmati tugas kita karena cinta. Ketika tidak mendapatkan tujuan, kita masih asik dengan tugas kita karena cinta.”