Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cari Blog Ini

Selasa, 23 Mei 2017

Membohongi Allah


            Seperti biasanya, setelah menunaikan sholat zhuhur di masjid kampus, Ghani langsung menuju tempat favoritnya di selasar pojok selatan masjid bersandar di salah satu tiang menghadap selatan. Dibukanya mushaf Al-Qur’an warna biru yang setia menemaninya. Cuaca cerah dengan angin sepoi dari sisi selatan benar-benar mesra sekali menyapu kerumunan manusia selepas zhuhur siang itu. Mulailah ia membaca dan muraja’ah hafalannya. Ada yang lain pada siang yang cerah ini. Di salah satu tempat di halaman masjid tampak semacam pertemuan suatu kelompok membahas sesuatu hal yang sepertinya seru sekali. Ghani mulai mendaras dua-tiga lembar, tapi perhatiannya terusik, apalagi kalau bukan karena suara berisik kelompok tadi. Didengar-dengar, ternyata banyak suara takbir. Dilihat lagi oleh Ghani dengan seksama. Ghani menutup mushhaf-nya, ia sangat butuh konsentrasi dan kekhusyukan ketika ingin berkomunikasi dengan Allah. Dan siang ini, kebisingan tadi benar-benar mengusiknya. Dari belakang, Asep yang baru saja selesai sholat datang menghampiri Ghani.

            “Lihat apa sih Kang?”
            “Sampeyan tahu itu acara apa Sep?”
            “Mana?”
            “Itu pojokan yang rame-rame, dari tadi sepertinya seru sekali sampai tidak tahu kalau seru yang seperti itu saru dilakukan di kawasan masjid.”
            “Oh, itu konsolidasi kang. Kan sebentar lagi pemilihan presiden BEM kampus. Sampeyan mau pilih siapa?”
            “Oh iya to. Aku kira ada pengajian atau apa sep. Pakaianya rapi-rapi, yang putri pakai jubah, yang putra jenggotan, duduknya dipisah pula. Yang bicara di depan pakai peci juga.”
            “Ya begitulah kang, mereka kan aktivis dakwah.”
            “Dakwah apa politik sih Sep? kok sempat-sempatnya ngurusi hal begituan?”
            “Lho, mereka kan mulia Kang, menjalankan politik secara islami dengan niat dakwah.”
            Dari utara Hamdani datang menghampiri Asep dan Ghani.
            “Assalamu’alaykum”
            “Wa’alaykumussalam, sini Dan.” Ghani dan Asep menjabat tangan Hamdani, ia segera ikut duduk di samping mereka.
            “Kayaknya ada obrolan seru nih, ngobrol apa kang?”
            “Kebetulan Kang, sampeyan kan orang aktivis juga. Kang Ghani kayaknya masih buta politik kampus.”
            “Oh, pasti lihat ikhwan-akhwat aktivis di pojokan itu ya?”
            “Iya Dan, kok kayaknya mereka ini keren-keren ya.”
            “Jangan percaya penampilan mereka Ghan, itu cuma kedok.”
            “Maksudmu Dan?” Ghani mulai mengalihkan perhatian kepada Hamdani.
            “Mereka gayanya berdakwah, tapi itu bohong-bohongan Ghan. Aslinya mereka ini hanya mempermanis penampilan supaya dapat masa dari orang-orang lantaran penampilan mereka yang sekilas terlihat suci. Tapi aslinya mereka ini juga sama saja dengan politikus-politikus yang mencari suara dan kekuasaan.”
            “Sampeyan yakin dengan ucapan itu Dan?”
            “Tapi Kang, itu kan jawaban sampeyan yang memang berseberangan politik dengan mereka?”
            “Kalau aku beda Sep, aku memang mengidentifikasikan diriku sebagai orang pergerakan, tidak membawa embel-embel agama dengan simbol-simbol maupun penampilan yang sifatnya cuma penutup luar saja. Artinya, aku tidak bohong. Tapi coba kalian lihat orang-orang itu, orang-orang awam jadi bingung membedakan mana dakwah mana politik. Banyak masyarakat yang tertipu kebohongan mereka, dan itu artinya strategi mereka berhasil.”
            “Jadi menurut sampeyan, mereka itu bohong-bohongan Dan?”
            “Iya Ghan, jangan mudah percaya.”
            “Kalau begitu aku kasihan denganmu.”
            “Hah? Maksudnya apaan?” Hamdani cukup kaget dengan kata-kata Ghani yang terakhir.
            “Kalau mereka bohong, terus apa masalahnya?” Ghani bertanya pada Hamdani.
            “Bohong itu gak boleh kan? Dosa. Kupikir kita semua sepakat tentang hal itu.”
            “Ya, bohong itu gak boleh kalau untuk melayani nafsu.”
            “Wah, apa lagi ini, kayaknya seru ini.”
            “Bisa dijelaskan Ghan?”
            “Justru kita ini harus melatih diri untuk berbohong. Tapi ingat, bukan bohong lantaran nafsu.”
            “Bohongku, bohongmu, bohong kita, haruslah bohong yang membawa kita kepada cinta Allah. Karena Allah sangat mudah dibohongi. Contoh mudahnya, ada hadits tentang membaca Al-Qur’an. Utluu Al-Qur’aana wa-bkuu, fa in lam tabkuu fatabaakuu. Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika sampeyan tidak bisa menangis, maka pura-puralah menangis. Itu kan artinya kita ini pura-pura sama Allah, kita membohongi Allah. Aslinya tidak nangis kok dinangis-nangiskan. Tapi kok ya Allah mau-maunya dibohongi, itu lah yang harus kita latih bagaimana bohong yang dicintai Allah.”
          “Wah, dalem ini. Memang bohong yang mendatangkan cinta Allah itu yang seperti apa Kang?”
          “Yang tidak pakai nafsu Sep. Tapi untuk bohong yang mengharap cinta, tentu bohongnya pun harus dengan cinta. Kalau orang sudah saling cinta, lalu jujur terus menerus malah tidak seru Sep. Justru dengan sedikit kebohongan-kebohongan yang mesra bisa menambah cinta.”
            “Betul juga Ghan, mungkin seperti rayuan-rayuan gombal gitu ya?”
            “Ya, seperti itu bisa Dan. Rayuan-rayuan gombal itu kan aslinya omong kosong semua. Tapi kok ya banyak orang-orang jadi tambah mesra dan cinta lantaran rayuan gombal yang bohong-bohongan itu. Masak dunia cuma milik berdua, masak jantung dan hati bisa dibelah-belah, dan lain sebagainya, sampeyan lebih jagolah untuk urusan itu.”
            “Hahaha, tahu saja sampeyan ini.”
            “Kita setiap hari juga sudah rajin membohongi Allah kok. Ketika sholat misalnya, kita berniat sholat lillaahi ta’ala, hanya untuk Allah. Tapi nyatanya sholat kita untuk masuk surga, menghindari neraka, untuk dapat predikat sholih, dan sebagainya.”
            “Wah, tersindir aku Kang, gue banget.”
            “Dalam kitab Ushfuriyah, ada sebuah kisah menarik tentang orang yang membohongi Allah. Jaman dahulu kala, ada seseorang yang sangat cerdik. Nama panggilannya pun menggambarkan kecerdikannya. Menurut orang-orang yang mengenalnya, dia ini memang orang yang cerdas. Nah, pada suatu hari orang itu masuk pasar. Di pasar, dia menipu orang-orang di dalamnya dan berhasil mengambil seorang laki-laki dari suatu kaum. Dia mengajaknya dan menjabat tangannya, lalu dengan sok kenal dan sok akrab berkata padanya. ‘ Tahu nggak? Sampeyan ini temannya bapakku. Aku mau silaturahim ke tempat sampeyan hari ini boleh ya’. Lalu jawab laki-laki tadi ‘ Hah? Tapi aku ndak kenal sama sampeyan dan bapak sampeyan’. Lalu si orang cerdik tadi bilang. ‘Sampeyan dulu temannya bapakku kok. Barangkali sampeyan sudah lupa karena sudah lama. Tapi aku masih ingat kok.’ Laki-laki tadi diam kemudian si cerdik berkata lagi. ‘Ayolah, lagipula cuma bertamu kok. Ini karena Allah semata mas’. Akhirnya si orang cerdik bersama laki-laki tadi mampir ke sebuah warung yang jual kepala hewan. Dia membeli kepala hewan itu, roti, dan makanan. Di daerah itu ada sebuah kebiasaan bahwa pembeli membayar makanan sesudah memakannya. Setelah laki-laki tadi makan dan tinggal tersisa sekitar dua suapan, si orang cerdik keluar dari warung dengan alasan mau buang air kecil. Nah, ketika laki-laki tadi selesai makan dan mau keluar warung, penjual menagih uang untuk membayar makanan tadi. Tentu si laki-laki kelabakan, ‘Aku cuma tamu pak, diajak sama orang yang tadi itu lho’. Penjual itu menjawab, ‘Wah, lha ya saya tidak peduli mas siapa yang jadi tuan rumah siapa yang jadi tamu. Sampeyan makan ya berarti harus bayar.’ Begitulah kehidupan si cerdik yang suka ndobosi orang lain.”
            “Wah, konyol sekali. Jaman dulu ternyata sudah ada orang seperti itu ya Kang, parah.” Asep menyandarkan diri di tiang masjid di sebelah Ghani.
            “Bahkan sampai mati pun orang itu masih suka licik, tapi licik di akhir hayatnya ini licik karena mengharap rahmat dan cinta Allah. Ketika si cerdik ini sakit kronis, dia membayar dua orang laki-laki dan berkata kepada mereka, ‘Nanti kalau aku mati, tolong sampeyan berdua bilang di belakang jenazahku bahwa aku ini  orang yang sholeh dan suka berbuat baik ya, dan sampeyan juga jangan ninggalin aku sampai aku selesai dikubur’. Lalu ketika si cerdik tadi mati, dua orang laki-laki tadi melaksanakan tugasnya sebagaimana yang diinginkan si cerdik tadi lalu pulang setelah selesai penguburan. Kemudian ada dua malaikat masuk ke dalam kubur orang cerdik tadi dan mau memberi si cerdik tadi petanyaan kubur. Tiba-tiba dua malaikat tadi mendengar suara Allah, ‘Tinggalkanlah hamba-Ku ini. Sesungguhnya dia hidup penuh dengan tipu daya dan mati juga tipu daya’. Dua malaikat tadi kemudian tidak jadi menanyai si cerdik, karena Allah sudah mengampuni si cerdik lantaran ada dua orang yang bersaksi, bahkan meski dua orang saksi itu tadi dibayar. Si cerdik tadi pun sukses membohongi malaikat, dan juga membohongi Allah.”
            Ketiga orang itu terdiam ketika sekelompok aktivis di pojokan bertakbir tiga kali. Beberapa menit kemudian acara di pojokan taman masjid sudah selesai. Rombongan mahasiswa-mahasiswi dengan atribut islam mulai berpisah. Sebagian masih tersisa di tempat untuk membereskan peralatan dan menyapu lantai. Asep tak sadar tertidur bersandar di tiang masjid mendengar Ghani membaca Al-Qur’an. Hamdani yang dari tadi membolak-balik buku Das Kapital tulisan Karl Marx, tiba-tiba menepuk bahu Ghani.
            “Apa Dan?”
         “Lalu yang aku bingungkan dari tadi Ghan, mereka itu termasuk membohongi Allah atau membohongi orang lain?”

            “Entahlah Dan, dua-duanya bisa benar. Atau bisa jadi mereka membohongi diri mereka sendiri. Menipu diri sendiri.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar