Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cari Blog Ini

Selasa, 23 Mei 2017

Membohongi Allah


            Seperti biasanya, setelah menunaikan sholat zhuhur di masjid kampus, Ghani langsung menuju tempat favoritnya di selasar pojok selatan masjid bersandar di salah satu tiang menghadap selatan. Dibukanya mushaf Al-Qur’an warna biru yang setia menemaninya. Cuaca cerah dengan angin sepoi dari sisi selatan benar-benar mesra sekali menyapu kerumunan manusia selepas zhuhur siang itu. Mulailah ia membaca dan muraja’ah hafalannya. Ada yang lain pada siang yang cerah ini. Di salah satu tempat di halaman masjid tampak semacam pertemuan suatu kelompok membahas sesuatu hal yang sepertinya seru sekali. Ghani mulai mendaras dua-tiga lembar, tapi perhatiannya terusik, apalagi kalau bukan karena suara berisik kelompok tadi. Didengar-dengar, ternyata banyak suara takbir. Dilihat lagi oleh Ghani dengan seksama. Ghani menutup mushhaf-nya, ia sangat butuh konsentrasi dan kekhusyukan ketika ingin berkomunikasi dengan Allah. Dan siang ini, kebisingan tadi benar-benar mengusiknya. Dari belakang, Asep yang baru saja selesai sholat datang menghampiri Ghani.

            “Lihat apa sih Kang?”
            “Sampeyan tahu itu acara apa Sep?”
            “Mana?”
            “Itu pojokan yang rame-rame, dari tadi sepertinya seru sekali sampai tidak tahu kalau seru yang seperti itu saru dilakukan di kawasan masjid.”
            “Oh, itu konsolidasi kang. Kan sebentar lagi pemilihan presiden BEM kampus. Sampeyan mau pilih siapa?”
            “Oh iya to. Aku kira ada pengajian atau apa sep. Pakaianya rapi-rapi, yang putri pakai jubah, yang putra jenggotan, duduknya dipisah pula. Yang bicara di depan pakai peci juga.”
            “Ya begitulah kang, mereka kan aktivis dakwah.”
            “Dakwah apa politik sih Sep? kok sempat-sempatnya ngurusi hal begituan?”
            “Lho, mereka kan mulia Kang, menjalankan politik secara islami dengan niat dakwah.”
            Dari utara Hamdani datang menghampiri Asep dan Ghani.
            “Assalamu’alaykum”
            “Wa’alaykumussalam, sini Dan.” Ghani dan Asep menjabat tangan Hamdani, ia segera ikut duduk di samping mereka.
            “Kayaknya ada obrolan seru nih, ngobrol apa kang?”
            “Kebetulan Kang, sampeyan kan orang aktivis juga. Kang Ghani kayaknya masih buta politik kampus.”
            “Oh, pasti lihat ikhwan-akhwat aktivis di pojokan itu ya?”
            “Iya Dan, kok kayaknya mereka ini keren-keren ya.”
            “Jangan percaya penampilan mereka Ghan, itu cuma kedok.”
            “Maksudmu Dan?” Ghani mulai mengalihkan perhatian kepada Hamdani.
            “Mereka gayanya berdakwah, tapi itu bohong-bohongan Ghan. Aslinya mereka ini hanya mempermanis penampilan supaya dapat masa dari orang-orang lantaran penampilan mereka yang sekilas terlihat suci. Tapi aslinya mereka ini juga sama saja dengan politikus-politikus yang mencari suara dan kekuasaan.”
            “Sampeyan yakin dengan ucapan itu Dan?”
            “Tapi Kang, itu kan jawaban sampeyan yang memang berseberangan politik dengan mereka?”
            “Kalau aku beda Sep, aku memang mengidentifikasikan diriku sebagai orang pergerakan, tidak membawa embel-embel agama dengan simbol-simbol maupun penampilan yang sifatnya cuma penutup luar saja. Artinya, aku tidak bohong. Tapi coba kalian lihat orang-orang itu, orang-orang awam jadi bingung membedakan mana dakwah mana politik. Banyak masyarakat yang tertipu kebohongan mereka, dan itu artinya strategi mereka berhasil.”
            “Jadi menurut sampeyan, mereka itu bohong-bohongan Dan?”
            “Iya Ghan, jangan mudah percaya.”
            “Kalau begitu aku kasihan denganmu.”
            “Hah? Maksudnya apaan?” Hamdani cukup kaget dengan kata-kata Ghani yang terakhir.
            “Kalau mereka bohong, terus apa masalahnya?” Ghani bertanya pada Hamdani.
            “Bohong itu gak boleh kan? Dosa. Kupikir kita semua sepakat tentang hal itu.”
            “Ya, bohong itu gak boleh kalau untuk melayani nafsu.”
            “Wah, apa lagi ini, kayaknya seru ini.”
            “Bisa dijelaskan Ghan?”
            “Justru kita ini harus melatih diri untuk berbohong. Tapi ingat, bukan bohong lantaran nafsu.”
            “Bohongku, bohongmu, bohong kita, haruslah bohong yang membawa kita kepada cinta Allah. Karena Allah sangat mudah dibohongi. Contoh mudahnya, ada hadits tentang membaca Al-Qur’an. Utluu Al-Qur’aana wa-bkuu, fa in lam tabkuu fatabaakuu. Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika sampeyan tidak bisa menangis, maka pura-puralah menangis. Itu kan artinya kita ini pura-pura sama Allah, kita membohongi Allah. Aslinya tidak nangis kok dinangis-nangiskan. Tapi kok ya Allah mau-maunya dibohongi, itu lah yang harus kita latih bagaimana bohong yang dicintai Allah.”
          “Wah, dalem ini. Memang bohong yang mendatangkan cinta Allah itu yang seperti apa Kang?”
          “Yang tidak pakai nafsu Sep. Tapi untuk bohong yang mengharap cinta, tentu bohongnya pun harus dengan cinta. Kalau orang sudah saling cinta, lalu jujur terus menerus malah tidak seru Sep. Justru dengan sedikit kebohongan-kebohongan yang mesra bisa menambah cinta.”
            “Betul juga Ghan, mungkin seperti rayuan-rayuan gombal gitu ya?”
            “Ya, seperti itu bisa Dan. Rayuan-rayuan gombal itu kan aslinya omong kosong semua. Tapi kok ya banyak orang-orang jadi tambah mesra dan cinta lantaran rayuan gombal yang bohong-bohongan itu. Masak dunia cuma milik berdua, masak jantung dan hati bisa dibelah-belah, dan lain sebagainya, sampeyan lebih jagolah untuk urusan itu.”
            “Hahaha, tahu saja sampeyan ini.”
            “Kita setiap hari juga sudah rajin membohongi Allah kok. Ketika sholat misalnya, kita berniat sholat lillaahi ta’ala, hanya untuk Allah. Tapi nyatanya sholat kita untuk masuk surga, menghindari neraka, untuk dapat predikat sholih, dan sebagainya.”
            “Wah, tersindir aku Kang, gue banget.”
            “Dalam kitab Ushfuriyah, ada sebuah kisah menarik tentang orang yang membohongi Allah. Jaman dahulu kala, ada seseorang yang sangat cerdik. Nama panggilannya pun menggambarkan kecerdikannya. Menurut orang-orang yang mengenalnya, dia ini memang orang yang cerdas. Nah, pada suatu hari orang itu masuk pasar. Di pasar, dia menipu orang-orang di dalamnya dan berhasil mengambil seorang laki-laki dari suatu kaum. Dia mengajaknya dan menjabat tangannya, lalu dengan sok kenal dan sok akrab berkata padanya. ‘ Tahu nggak? Sampeyan ini temannya bapakku. Aku mau silaturahim ke tempat sampeyan hari ini boleh ya’. Lalu jawab laki-laki tadi ‘ Hah? Tapi aku ndak kenal sama sampeyan dan bapak sampeyan’. Lalu si orang cerdik tadi bilang. ‘Sampeyan dulu temannya bapakku kok. Barangkali sampeyan sudah lupa karena sudah lama. Tapi aku masih ingat kok.’ Laki-laki tadi diam kemudian si cerdik berkata lagi. ‘Ayolah, lagipula cuma bertamu kok. Ini karena Allah semata mas’. Akhirnya si orang cerdik bersama laki-laki tadi mampir ke sebuah warung yang jual kepala hewan. Dia membeli kepala hewan itu, roti, dan makanan. Di daerah itu ada sebuah kebiasaan bahwa pembeli membayar makanan sesudah memakannya. Setelah laki-laki tadi makan dan tinggal tersisa sekitar dua suapan, si orang cerdik keluar dari warung dengan alasan mau buang air kecil. Nah, ketika laki-laki tadi selesai makan dan mau keluar warung, penjual menagih uang untuk membayar makanan tadi. Tentu si laki-laki kelabakan, ‘Aku cuma tamu pak, diajak sama orang yang tadi itu lho’. Penjual itu menjawab, ‘Wah, lha ya saya tidak peduli mas siapa yang jadi tuan rumah siapa yang jadi tamu. Sampeyan makan ya berarti harus bayar.’ Begitulah kehidupan si cerdik yang suka ndobosi orang lain.”
            “Wah, konyol sekali. Jaman dulu ternyata sudah ada orang seperti itu ya Kang, parah.” Asep menyandarkan diri di tiang masjid di sebelah Ghani.
            “Bahkan sampai mati pun orang itu masih suka licik, tapi licik di akhir hayatnya ini licik karena mengharap rahmat dan cinta Allah. Ketika si cerdik ini sakit kronis, dia membayar dua orang laki-laki dan berkata kepada mereka, ‘Nanti kalau aku mati, tolong sampeyan berdua bilang di belakang jenazahku bahwa aku ini  orang yang sholeh dan suka berbuat baik ya, dan sampeyan juga jangan ninggalin aku sampai aku selesai dikubur’. Lalu ketika si cerdik tadi mati, dua orang laki-laki tadi melaksanakan tugasnya sebagaimana yang diinginkan si cerdik tadi lalu pulang setelah selesai penguburan. Kemudian ada dua malaikat masuk ke dalam kubur orang cerdik tadi dan mau memberi si cerdik tadi petanyaan kubur. Tiba-tiba dua malaikat tadi mendengar suara Allah, ‘Tinggalkanlah hamba-Ku ini. Sesungguhnya dia hidup penuh dengan tipu daya dan mati juga tipu daya’. Dua malaikat tadi kemudian tidak jadi menanyai si cerdik, karena Allah sudah mengampuni si cerdik lantaran ada dua orang yang bersaksi, bahkan meski dua orang saksi itu tadi dibayar. Si cerdik tadi pun sukses membohongi malaikat, dan juga membohongi Allah.”
            Ketiga orang itu terdiam ketika sekelompok aktivis di pojokan bertakbir tiga kali. Beberapa menit kemudian acara di pojokan taman masjid sudah selesai. Rombongan mahasiswa-mahasiswi dengan atribut islam mulai berpisah. Sebagian masih tersisa di tempat untuk membereskan peralatan dan menyapu lantai. Asep tak sadar tertidur bersandar di tiang masjid mendengar Ghani membaca Al-Qur’an. Hamdani yang dari tadi membolak-balik buku Das Kapital tulisan Karl Marx, tiba-tiba menepuk bahu Ghani.
            “Apa Dan?”
         “Lalu yang aku bingungkan dari tadi Ghan, mereka itu termasuk membohongi Allah atau membohongi orang lain?”

            “Entahlah Dan, dua-duanya bisa benar. Atau bisa jadi mereka membohongi diri mereka sendiri. Menipu diri sendiri.”


Minggu, 22 Januari 2017

40 tahun dan 40 hari untuk Kakek




Perkenalkan, saya adalah peranakan Aceh yang tinggal di Jogja.

Sebagaimana diaspora Aceh lainnya, saya sering ditanya oleh orang-orang tentang dua hal: ganja dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

“Punya ladang ganja?”

“Kamu mengkonsumsi ganja?”

“Rasanya ganja itu gimana?”

Saya pun menjelaskan bahwa saya biasa makan ganja sebagai lalapan di Takengon, Aceh Tengah. Jika orang jawa menggunakan daun singkong sebagai lalapan, kami menggunakan ganja. Kalau Anda tahu, rasanya seperti daun marijuana. Apa bedanya ganja dan marijuana? Marijuana itu tokoh wanita dalam film Spiderman, sedangkan ganja adalah tokoh pria dalam film Crows Zero.

Tapi waktu kecil saya memang pernah lihat teman main saya yang sudah agak dewasa, mereka menggunakan ganja sebagai suplemen rokok. Caranya, mereka mengambil sebagian tembakau dalam rokok, lalu memasukkan ganja kering, dan ditutup kembali dengan tembakau. Kemudian mereka merokok di tempat tersembunyi. Saya pun bertanya-tanya. Kalau ganja sudah disembunyikan di dalam rokok, buat apa mereka sembunyi lagi?

Biasanya orang-orang memakai ganja untuk menambah percaya diri ketika tampil di depan layar kaca atau di atas panggung. Selain itu, kadang ganja dikonsumsi untuk melarikan diri dari masalah besar. Untuk ukuran teman-teman saya saat itu, yang jelas tidak mungkin mereka mengkonsumsi ganja untuk meningkatkan self esteem mereka di atas panggung atau layar kaca. Kalau pun memiliki masalah, masalah terbesar kami saat itu adalah ketinggalan melihat serial Dragon Ball Z di Minggu pagi. Maklum, saat itu rumah yang memiliki televisi hanya ada beberapa di kampung, kami harus menuruni bukit selama satu jam.

Sedangkan tentang GAM, saya tidak ragu mengatakan bahwa saya memiliki keluarga dengan latar belakang GAM yang kuat. Salah satu hal yang menjadi alasan kuat adalah, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan GAM, 4 Desember. Entah bagaimana caranya, ayah saya bisa menghitung dengan tepat. Meskipun demikian, keluarga saya sama sekali tidak pernah memberikan edukasi tentang falsafah dan ideologi GAM kepada saya. Hanya saja ayah pernah bilang, kalau saya mau menjadi bupati Aceh Tengah, jalannya mudah.

Tidak mudah menjadi anggota keluarga yang berafiliasi pada gerakan yang dituduh makar. Karena itu pula ada anekdot terkenal di Aceh.

Ada seorang anggota GAM ditahan di Nusa Kambangan. Suatu hari, ayahnya mengirim surat dan menyampaikan bahwa ayahnya ingin menanam jagung namun tidak ada yang bisa mencangkul lahannya.

“Ayah jangan mencangkul lahannya, disitu saya mengubur banyak senjata dan bahan peledak”

Surat balasan dari anaknya ternyata terbaca oleh petugas. Lalu dikirimlah satu peleton untuk mencari-cari keberadaan senjata tersebut. Hingga akhirnya ayahnya mengirim surat lagi.

“Tempo hari ada tentara menggali lahan kita, apa yang harus kulakukan?”

“Sekarang ayah bisa menanam jagung di sana.”

Tentu saja cerita itu tidak benar-benar terjadi. Dugaan saya cerita itu saduran dari kisah serupa dari Abu Nawas.

Kakek saya jauh lebih GAM daripada ayah saya. Kakek saya merupakan salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia namun tidak puas dengan pemerintahan yang ada saat itu. Karenanya, beliau berjuang kembali lewat GAM. Hal itu membuat dirinya menjadi target operasi pemerintah. Untuk menyiasatinya, kakek saya ternyata memiliki tiga nama yang berbeda. Nama beliau di KTP adalah Rizal, di akte namanya Harun Munthe, sedangkan panggilan sehari-hari adalah Abdul Ghani. Bahkan kakek saya rela menghapus nama Teungku yang sudah diwariskan turun-temurun.

Jadi, ketika ada operasi dari pemerintah, kakek saya selalu berhasil menghindar.

“Apakah Anda yang bernama Abdul Ghani?”

“Maaf, nama saya adalah Rizal”

“Mana buktinya?”

“Ini KTP saya.”

Lalu jika di lain waktu ada lagi yang bertanya

“Apakah Anda yang bernama Rizal?”

“Maaf, nama saya adalah Harun Munthe”

“Mana buktinya?”

“Ini akte saya.”




4 Desember 2016 kemarin, GAM berulang tahun ke 40.

Sedangkan hari ini, adalah 40 hari meninggalnya kakek saya.

Sabtu, 31 Desember 2016

Pretiduration


Tidur adalah hak segala bangsa. Tanpa tidur, apalagi yang akan kita lakukan di atas kasur? Sebagaimana tidur adalah seni, keindahan ritual tidur dapat direfleksikan dari bagaimana kita memandang tidur dan menyambutnya. Tulisan berikut sedikit atau banyak mungkin akan membantu, bagaimana kita mendapatkan tidur yang berkualitas sehingga tidak hanya bobok cantik, tapi juga bobok yang islamik.

Secara umum, manusia memandang tidur dengan dua sudut pandang. Pertama, memandang tidur sebagai waktu istirahat untuk memperbaiki metabolisme tubuh. Kedua, memandang tidur sebagai buang-buang waktu, bahkan mengatakan bahwa tidur adalah saudara kematian. Entahlah, kalau mereka bersaudara lalu siapa orang tuanya.

Dalam dunia santri, ada dua pandangan juga tentang tidur. Pertama memandang tidur sebagai sunnah nabi, dimana nabi sendiri mencontohkan dan menganjurkan untuk tidur di waktu-waktu tertentu seperti setelah sholat isya lalu bangun di sepertiga malam yang terakhir, tidur sebentar sebelum zhuhur, dan melarang tidur selepas subuh dan selepas asar. Para santri di golongan pertama, mereka biasanya tidur lebih awal dan sangat mudah tidur bahkan ketika sedang mengaji di kelas. Bisa dibilang, mereka juga jarang sholat malam. Bagi mereka, ada sebuah riwayat yang mereka pegang teguh:

نوم العالم افضل من عبادة الجاهل

Tidurnya orang alim lebih utama daripada ibadahnya orang jahil

Kedua memandang bahwa begadang itu lebih baik daripada tidur. Kisah-kisah ulama yang sering begadang untuk menuntut ilmu, berzikir, menulis kitab, membaca al-Quran, dan sebagainya menjadi justifikasi tersendiri. Selain itu, ada sebuah peribahasa terkenal di dunia santri (mahfuzhat):

من طلب العلى سهر الليالي

Barangsiapa ingin mendapatkan keutamaan, maka begadanglah

Maka jangan heran jika banyak santri yang suka ngopi karena bisa dipastikan dia ada di golongan kedua. Tentu saja, mereka begadang ditemani kopi sambil mengobrol bercanda. Maka tidak jarang kalau ada orang yang mudah marah atau tersinggung, akan dibilang “kopimu kurang kenthel

Para santri juga mempelajari adab sebelum tidur. Di antara adab-adab sebelum tidur yaitu:

1.      Perhatikan dengan siapa anda tidur. Pastikan anda tidak tidur di samping orang yang bukan mahram (orang yang haram dinikahi) anda. Bukan berarti juga tidur dengan pasangan halal anda akan membuat tidur anda nyenyak. Karena dikisahkan bahwa Abu Nawas selalu tidak betah ketika tidur dengan istrinya karena istrinya sangat bau apalagi ketika tidur. Hingga suatu hari Abu Nawas pulang membawa seekor monyet ke rumah. Istrinya bertanya pada Abu Nawas,

“Monyet ini akan tinggal di mana?”

“Di rumah kita”

“Tidurnya di mana?”

“Di kasur kita”

“Bagaimana dengan baunya?”

“Kalau aku saja kuat, monyet ini pasti juga kuat”

2.      Tidur dalam keadaan suci. Nabi menganjurkan untuk berwudhu sebelum tidur, karena malaikat akan mendoakan supaya Tuhan mengampuni kita selama kita masih tidur jika kita sudah berwudhu. Ini penting, jika suatu hari anda bermimpi bertemu bidadari lalu anda terkejut sehingga kaget setengah mati, mana mungkin orang seperti anda pantas mendapat bidadari, dan anda juga tidak merasa telah melakukan bom bunuh diri. Parahnya bidadarinya ada dua, anda pun kaget setengah mati sebanyak dua kali. Maka anda akan meninggal dalam keadaan diampuni dosa-dosanya jika sudah berwudhu.

3.      Menghadap kiblat. Ditinjau dari segi geografis, di Indonesia kita menghadap barat yang agak condong ke utara. Berarti, posisi tidur kita adalah dengan kepala di sebelah utara, dan kaki menjulur ke selatan. Secara lebih spesifik, nabi mencontohkan dengan miring ke kanan dan berbantal tangan kanan. Selain itu, nabi melarang tidur secara tengkurap karena selain tidak disukai Tuhan, tidak baik pula untuk kesehatan. Tidur telentang juga tidak baik untuk kesehatan, karena tang bukanlah sesuatu yang wajar ditelen.

4.      Membaca doa sebelum tidur. Selain doa sebelum tidur, nabi menganjurkan untuk membaca Al-Qur’an. Mengenai surat apa yang sebaiknya dibaca, ada banyak keterangan. Misalnya, membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas (HR. Bukhari & Muslim). Atau membaca Ayat Kursi (HR. Bukhari). Bisa juga membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah (HR. Bukhari & Muslim). Surat Al-Kafirun juga boleh (HR. Abu Dawud). Kalau mau yang agak panjang, bisa baca Surat Al-Mulk dan As-Sajdah (HR. Bukhari). Bahkan Nabi pernah menyuruh supaya jangan tidur sebelum mengkhatamkan Al-Qur’an (30 juz), maksudnya adalah membaca Al-Ikhlas tiga kali, karena satu Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an (Durrotun Nashihin). Intinya, sempatkan membaca Al-Qur’an, meskipun dari hafalan surat-surat pendek. Namun jika anda ingin membaca surat yang panjang, itu lebih bagus, barangkali anda adalah seorang penghafal Al-Qur’an.

Namun hati-hatilah ketika memilih surat yang akan dibaca. Karena dalam kitab At-Tibyan dikisahkan bahwa ada seorang ulama bernama Abu Usaid yang mempunyai kebiasaan membaca Surat Al-Baqarah sebelum tidur. Suatu hari ia ketiduran sebelum sempat membaca Surat Al-Baqarah lalu di dalam tidurnya ia bermimpi diseruduk sapi betina (baqarah = sapi betina). Paginya ia terbangun dan sedih bercampur menyesal karena lupa membaca Surat Al-Baqarah sebelum tidur. Padahal seandainya dia sebelum tidur biasa membaca Surat An-Nisaa (nisaa = perempuan ), maka dia akan gembira kalau terlupa membacanya. Karena bukan sapi betina yang akan menyeruduknya.

5.      Tips terakhir dan yang terpenting sebelum tidur adalah memaafkan semua orang, begitu anjuran nabi. Jangan sampai anda tidur membawa marah, dendam, dan segala perasaan negatif lainnya. Maafkanlah diri anda, orang lain, dan terutama maafkanlah saya jika tulisan ini tidak berkenan untuk anda. Terima kasih.

Rabu, 02 November 2016

Saya Berburu Sanad


Di dunia pesantren, banyak sekali santri yang senang berburu ijazah wirid atau amalan kepada para kyai. Saya pun pernah demikian. Namun belakangan, saya lebih suka mencari sanad untuk menyambungkan rantai saya sampai Kanjeng Nabi. Baik itu sanad keilmuan, sanad kitab, hadits, dzikir, dan sebagainya. Misalnya, pada fan ilmu fiqih saya mencoba menarik-narik rantai saya sampai Kanjeng Nabi, alhamdulillah masih bertemu. Hal itu saya sampaikan ketika mengaji qowaid fiqh.



Pengajian kitab qowaidul fiqhiyah dengan menggunakan kitab susunan Al-Maghfurlah KH Humam Bajuri (pendiri Pondok Pesantren Al-Imdad) sepertinya sedang hits di sekitar Krapyak. Setelah Pak Hilmy membuka pengajian dengan kitab tersebut, di tempat pengajian lain juga mengikuti.  Kemarin dari Pondok Bangunjiwo ada yang mencari kitab tersebut di kantor Diniyah Krapyak. Saya pun diminta untuk membacakan kitab tersebut untuk santri kelas 3 madrasah diniyah di komplek NSPI.



Biasanya, pembacaan sanad di baca pada akhir pelajaran. Namun saya menyampaikan di awal agar menjadi motivasi para santri. Awalnya dulu saya mengaji qowaid fiqh dengan Pak Fakhruddin Yusuf.

Pak Fakhruddin Yusuf dulu mondok di Tremas Pacitan, lalu pindah ke Krapyak sembari menyelesaikan  S1 di UIN Sunan Kalijaga dan S2 di UGM.

Di Krapyak, beliau juga berguru kepada Al-Maghfurlah KH Zainal Abidin Munawwir. Mbah Zainal punya guru utama tidak lain adalah Al-Maghfurlah KH Ali Maksum.

Mbah Ali Maksum dulu juga mondok di Tremas Pacitan, beliau juga berguru pada ayah beliau sendiri, Al-Maghfurlah KH Maksum Ahmad Lasem.

Mbah Maksum Lasem berguru kepada ulama besar asal Indonesia di tanah haram, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi.

Syaikh Mahfudz At-Tarmisi punya guru banyak, namun utamanya dalam bidang fiqh adalah Sayyid Abu Bakr Syatho, penyusun kitab I’anatu Thalibin hasyiah Fathul Mu’in.

Sayyid Abu Bakr Syatho sendiri belajar kepada Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, penyusun kitab Syarah Jurumiyah.

Lalu Sayyid Ahmad Zaini Dahlan belajar kepada Syaikh ‘Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi.

Syaikh ‘Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi belajar kepada Syaikh Abdullah bin Hijazy As-Syarqawi.

Syaikh Abdullah bin Hijazy As-Syarqawi belajar kepada Syaikh Muhammad bin Salim Al-Hifni.

Syaikh Muhammad bin Salim Al-Hifni belajar kepada  Syaikh Ahmad al-Khalifi

Syaikh Ahmad Al-Khalifi belajar kepada Syaikh Ahmad Al-Basyisyi

Syaikh Ahmad Al-Basyisyi belajar kepada Syaikh Ali bin Ibrahim Al-Halabi dan Syaikh Sulthon bin Ahmad Al-Muzahi

Syaikh Ali bin Ibrahim Al-Halabi belajar kepada Syaikh Ali Az-Ziyadi sedangkan Syaikh Sulthon bin Ahmad Al-Muzahi belajar kepada Syaikh Muhammad Al-Qushri

Syaikh Sulthon bin Ahmad Al-Muzahi dan Syaikh Muhammad Al-Qushri belajar kepada Syaikh Syihabuddin Ar-Ramli, Syaikh Syamsuddin Ar-Ramli, Syaikh Khatib Asy-Syarbini, dan Syaikh Ahmad bin Hajar (Ibnu Hajar) Al-Haitsami.

Syaikh Syihabuddin Ar-Ramli, Syaikh Syamsuddin Ar-Ramli, Syaikh Khatib Asy-Syarbini, dan Syaikh Ahmad bin Hajar (Ibnu Hajar) Al-Haitsami belajar kepada Syaikh Zakariya Al-Anshori

Syaikh Zakariya Al-Anshori belajar kepada Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani belajar kepada Imam Sirajuddin Umar Ibnu Al-Mulaqin

Imam Ibnu Al Mulaqin belajar kepada Imam Al-Jamal Abdurrahim bin Al-Hasan Al-Isnawi

Imam Al-Jamal Al-Isnawi belajar kepada Imam Taqiyudin ‘Ali bin Abdul Kafi As-Subky

Imam Taqiyudin As-Subky belajar kepada Imam Ahmad bin Muhammad Ibnu Ar-Rif’ah Al-Mishri

Imam Ibnu Ar-Rif’ah belajar kepada Imam Muhammad bin ‘Ali bin Daqiq Al-‘Ied

Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied belajar kepada Sulthonul Ulama Al-Imam ‘Izzudin bin Abdul Aziz bin Abdissalam

Imam ‘Izzudin bin Abdissalam belajar kepada Al-Hafizh Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Asakir

Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir belajar kepada Imam Ibnu Mas’ud bin Muhammad An-Naisaburi

Imam Ibnu Muhammad An-Naisaburi belajar kepada Imam ‘Umar bin Isma’il Ad-Damighani

Imam Ad-Damighani belajar kepada Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali belajar kepada Al-Imam Al-Haramain Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini

Al-Imam Al-Haramain Abdul Malik Al-Juwaini bin Abdullah belajar kepada Al-Imam Abdullah Juwaini

Imam Abdullah Juwaini belajar kepada Imam Abdullah bin Ahmad Al-Qaffal Ash-Shaghir

Imam Al-Qaffal Ash-Shaghir belajar kepada Imam Abi Yazid Al-Marwazi

Imam Abi Yazid Al-Marwazi belajar kepada Imam Abi Ishaq Al-Marwazi

Imam Abi Ishaq Al-Marwazi kepada Imam Ahmad bin Suraij Al-Baghdadi

Imam Ahmad bin Suraij Al-Baghdadi belajar kepada Imam ‘Utsman bin Sa’id bin Basyar Al-Anmathi

Imam Al-Anmathi belajar kepada Imam Isma’il bin Yahya Al- Muzani

Imam Muzani belajar kepada Imam Muhammad bin Idriss Asy-Syafi’i

Imam Syafi’I belajar kepada Imam Malik

Imam Malik belajar kepada Imam Nafi’

Imam Nafi’ belajar kepada Sayyidina Ibnu Umar

Sayyidina Ibnu Umar belajar kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam

Lahumul-fatihah



Saya berburu sanad dengan penuh semangat. Setiap ada ulama yang saya pandang pantas saya minta sanadnya, saya akan mendatanginya, meskipun dengan segala keterbatasan saya. Beberapa tahun lalu saya ke Kulon Progo untuk menerima ijazah ‘amah dari Syaikh Ali Ash-Shobuni. Ya, Syaikhh Shobuni yang terkenal sebagai mufassir, yang menulis kitab Rowai’ul Bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam dan Shofwatut Tafasir. Beruntung sekali saya rasanya. Sekitar sebulan yang lalu saya ke Purworejo yang katanya ada ijazahan dari Syaikh Hisyam Kamil Al-Azhari dari Mesir. Malangnya, karena hujan deras disertai buta arah Purworejo, saya melewatkan ijazah Arba’in Nawawi. Tapi saya cukup beruntung karena masih kebagian mendapatkan ijazah ‘Aqidatul ‘Awwam dan Matn Al-Ghayah wa At-Taqrib.



Beberapa bulan yang lalu, UGM kedatangan Syaikh Taufiq Al-Buthi, putra dari Asy-Syahid Syaikh Sa’id Ramadhan Al-Buthi. Selesai acara seminar, saya menunggu Syaikh Taufiq di ruang tunggu. Dan ketika bertemu, saya langsung meminta ijazah kitab-kitab ayahandanya. Beruntung sekali saya karena beliau bersedia memberikannya dan bonus hizib nawawi juga. Dua bulan lalu di Masjid Agung Bantul juga bertemu Syaikh Fadhil Al-Jailani, keturunan dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani qs. Kepada beliau, saya meminta ijazah kitab-kitab datuknya, beruntung sekali saya beliau bersedia memberikannya dan juga mendoakan saya. Saya awalnya ragu, apakah mungkin meminta ijazah dari ahli waris? Karena beliau-beliau berkenan memberikannya maka saya yakin hal itu diperbolehkan.



Saya juga punya beberapa teman di pondok yang menjadi pemburu sanad. Namun mereka pelit-pelit jika saya minta sanadnya. Ada yang pernah mendapat sanad dari Mbah Maimun Zubair, ada yang dari Sayyid Said Agil Al-Munawwar, dan sebagainya. Namun ada juga yang baik, kita berbagi sanad seperti para ulama dulu saling mendengar sanad. Kita juga saling memberikan informasi jika ada ulama-ulama yang bisa didatangi untuk dimintai sanad.



Memiliki sanad tidak berarti justifikasi bahwa ilmu kita sama persis dengan para ulama periwayat. Saya punya sanad kitab Shofwatu Tafasir, bukan berarti jika saya mengajar kitab tersebut akan sama dengan penjelasan Syaikh Ash-Shobuni. Namun kata Imam Nawawi, sanad adalah tradisi Islam yang harus dijaga. Dengannya, kita tahu kepada siapa kita belajar.



Karena guru dari guru kita adalah guru kita juga.

pic: Berburu ke Lasem

Sabtu, 04 Juni 2016

Sufi yang Suka Berkelahi

Rasanya aneh, jika seorang sufi terkenal sebagai orang yang suka berkelahi, memukuli orang lain, dan semacamnya. Atribusi negatif seperti itu sangat tidak pantas dilekatkan kepada seorang sufi, seorang yang mendekatkan diri pada Allah, seorang yang menjauhi dunia. Tidak heran kita sering mendengar atau membaca sufi-sufi atau wali-wali yang berdakwah dengan lemah-lembut, santun, dan tidak melukai orang lain. Alih-alih mengalahkan orang lain, mereka berjuang untuk menaklukan diri sendiri, sebagaimana petuah Kanjeng Nabi:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Orang yang kuat bukanlah orang yang tidak bisa dikalahkan, tapi orang yang bisa menguasai dirinya ketika marah

Muhammad Ali (Allahu yarham), adalah seorang Muslim, Asy’ari, Sufi. Ia memiliki banyak guru sufi di berbagai penjuru dunia seperti Syaikh Ahmad Kuftaro, Syaikh Hisyam Kabbani dan lain-lainnya. Bahkan, ia pernah berbaiat kepada Syaikh Nazim Haqqani qs (Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah / Nazimiyah). Bila kita membaca banyak meme atau quote dari beliau yang marak setelah kewafatannya, kita banyak mendapati hikmah yang elegan dari seorang petinju, juara dunia, tapi sufi. Mana mungkin sufi itu petinju? Yang sukanya memukuli orang lain? Meski tak bersalah sekali pun? Apakah ini anomali?

Nabi Khidir.
Sufi mana yang tidak kenal Nabi Khidir?
Kisah Nabi Musa berguru pada Nabi Khidir adalah cerminan dari pertemuan antara dunia syariat dan hakikat. Nabi Khidir, gurunya para sufi. Konon, semua wali mendapat stempel dari Nabi Khidir. Maka kita tentu ingat bagaimana Nabi Khidir, di hadapan Nabi Musa, tanpa belas kasihan memukul seorang anak tak bersalah, karena ia mengetahui apa yang akan terjadi kelak di masa depan. Nabi Khidir, bukan sekedar sufi, bukan sekedar wali, tega memukul seorang anak kecil tak bersalah hingga mati.

Pada kisah-kisah sufi lainnya dari penjuru dunia, kita tidak memungkiri banyak sufi yang juga ahli perang dan bela diri. Misal, salah seorang wali yang dikenal dengan nama Sayyid Amir Kulal, dari daerah Bucharest. Beliau masyhur sebagai keturunan Kanjeng Nabi yang menguasai ilmu syariat dan hakikat, namun hobi bergulat. Tidak tanggung-tanggung, berbagai aliran martial arts dia kuasai dengan baik. Maqamnya dalam ilmu syariat, hakikat, dan gulat sudah teramat tinggi. Hal ini yang membuat salah seorang pemuda heran, mana mungkin seorang wali tapi suka berkelahi? Hingga akhirnya pemuda itu tertidur dan bermimpi sedang menghadapi kiamat dan berada dalam suatu kesulitan yang pelik. Datanglah Sayyid Amir Kulal memberikan pertolongan (syafaat) dalam mimpinya itu. Ketika pemuda itu terbangun, ia menmdapati Sayyid Amir Kulal sudah berada di sampingnya dan ia pun bertambah yakin pada Sayyid Amir Kulal.

Sebuah kisah lain dari bumi Persia, bercerita tentang Mahmud. Ia adalah seorang wali, namun jawara dalam bergulat. Ia dijuluki Pahlawan Mahmud (Pahlevi Mahmud), superhero dari daerah Khawarizm. Alkisah, Raja India menghelat lomba gulat, India-Open Championship, Ten Ka Ichi Budokkai. Ia mengundang Raja Khawarizm untuk berpartisipasi dalam event tersebut. Raja Khawarizm menyetujui, dan mengutus superheronya, Mahmud. Bukan main senangnya Raja India, ia juga mengirim utusan terbaiknya untuk melawan Mahmud. Sebelum hari pertandingan, Mahmud menginap di sebuah rumah seorang sufi untuk mencari ketenangan spiritual. Mengetahui bahwa tamu yang menginap adalah sufi, bahkan wali yang hendak bertanding esok hari, sang sufi pemilik rumah berdoa, yang doanya didengar oleh Mahmud.

“Tuhan, anakku bekerja untuk Raja India, dan esok hari ia akan menghadapi utusan dari Khawarizm, bahkan ia adalah wali. Jika ia memang benar wali, dia pasti mudah mengalahkan anakku, padahal anakku adalah satu-satunya yang kumiliki di dunia ini”

Esoknya Mahmud datang ke arena pertandingan, dalam beberapa pukulan Mahmud terjatuh dan kalah. Mahmud lantas menulis syair rubaiyat:
Raja dari ego, dialah orang kuat sebenarnya # Orang yang kuat dengan budak tidaklah sama
Tidak gagah menghajar orang yang lemah # Menyayangi orang malang, itulah orang yang menang


Dari cerita-cerita itu, kita bisa melihat seorang wali sekaligus seorang yang pandai berkelahi. Ini menghapus gambaran kita tentang sufi yang puasa terus menerus hingga badan kurus kering dan lemah, dengan alasan zuhud atau entah apa pun itu. Seorang sufi yang mendalam ilmu syariatnya, tinggi menjulang ilmu hakikatnya, gagah perkasa fisiknya, namun lemah-lembut  dan welas-asih hatinya. Hal ini mengingatkan kita pada sosok Al-Imam Junayd al-Baghdadi qs.
              
Sebagaimana tercatat dalam kitab Tajalliyat al-Jadzb karangan Maulana Hakim Muhammad Akhtar, Imam Junayd pada masa mudanya juga seorang pegulat. Ia jawara tak terkalahkan, invincible. Ia mendapatkan penghidupan dengan profesinya sebagai pegulat. Kehebatan itu membuat Raja berinisiatif untuk mengadakan sayembara, barangsiapa bisa mengalahkan Junayd, akan diberi hadiah besar. Terdengarlah berita itu pada seorang pria kurus yang hendak menantang Junayd.

Sampai di ring pertandingan, pria kurus itu membisiki Junayd:
“Aku adalah keturunan Kanjeng Nabi. Anakku banyak, dan mereka kelaparan. Bagaimana jika sampeyan mengorbankan nama, posisi dan kehormatan sampeyan demi kami? Sampeyan bisa memenuhi kebutuhan kami setahun penuh dengan hadiah itu. Sampeyan juga akan dicintai Kanjeng Nabi dunia akhirat.”

Junayd tanpa pikir panjang, melawan pria kurus itu dengan tanpa kekuatan, hingga akhirnya menjatuhkan diri dan kalah. Hari itu untuk pertama kalinya, di hadapan raja dan penonton se-negara, ia mengalah oleh seorang pria kurus. Malam harinya, Junayd bermimpi, bermimpi bertemu Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi berpesan pada Junayd:

“Wahai Junayd, sampeyan sudah mengorbankan kehormatan dan ketenaran. Nama dan posisi yang disanjung di seluruh penjuru Baghdad, ditukar demi ekspresi cintamu untuk anak-anakku yang sedang kelaparan. Mulai detik ini dan seterusnya, namamu tercatat dalam daftar Auliya (wali Allah).”

Congratulation!


Jumat, 15 April 2016

Pesantren, Harvard, dan Alasan Mengapa Kita Tidak Butuh LPDP


Saya Tidak Butuh LPDP



Siapa mahasiswa Indonesia yang tidak kenal LPDP, sebuah beasiswa lezat dari pemerintah yang diperebutkan mahasiswa se-Indonesia. Saya juga pernah memperebutkannya, dua kali, gagal semua. Sesuai peraturan, jika gagal dua kali maka tak bisa mendaftar lagi. Secara jujur, saya pun iri dengan teman-teman, kakak kelas, atau adik kelas yang mengunggah foto-foto keberhasilan mereka menembus LPDP, ketika mengikuti PK, dan semacamnya. Tidak sedikit (bahkan hampir semuanya) teman-teman facebook yang mengunggah hal tersebut segera saya unfollow akun facebooknya. Karena itu membuat saya hasud, lalu teringat dan berpikir, apa alasan saya tidak lolos seleksi tersebut? Dalam hal ini tidak ada transparansi yang jelas dari panitia. Meskipun saya mengakui, jika kriterianya adalah mahasiswa yang aktif organisasi, berpengalaman riset, memenangkan kejuaraan, saya kalah telak. Tapi itu bukan tanpa alasan.



Belakangan ada berita keren, kolega saya di pesantren Krapyak, berhasil menembus Harvard dan mendapatkan beasiswa bebas uang kuliah, dan sejumlah saku untuk living cost dari Harvard. Namun karena dirasa belum cukup untuk tinggal di sana, kolega saya ingin mencari sponsor lain, setelah dia sendiri juga ditolak oleh LPDP. Sebagai sesama santri, berat memang untuk bisa menjadi seideal mahasiswa berprestasi lainnya. Kami tidak sebebas dan seluang mahasiswa yang tinggal di rumah atau di kos. Kami tidak bisa seenaknya pergi dari pondok, setiap pagi dan malam kami harus mengaji, menyiapkan setoran hafalan, belum lagi yang menjadi pengurus pondok. Dengan itu semua, berat bagi kami untuk aktif di organisasi, riset-riset produktif, berlatih untuk menjuarai lomba demi lomba, dan sebagainya. Saya masih ingat dulu ketika S1, hampir tiap hari saya memiliki agenda rutin. Paginya saya mengaji, lalu berangkat kuliah, siangnya mengajar les privat, sorenya mengajar diniyah sambil menyiapkan setoran  hafalan, bakda maghrib setoran Al-Qur’an, bakda Isya mengaji diniyah dan selesai sekitar pukul setengah sepuluh malam. Entah, aktivitas saya tersebut apakah masuk pada pengalaman organisasi, riset, atau kejuaraan? Apakah memberi kesan positif pada interviewer LPDP? Entahlah.



Saya tidak buta organisasi. Selama S1, saya sempat menjadi koordinator bidang Syiar di LDK Fakultas, bahkan hampir menjadi ketua LDK Fakultas. Namun ketika musyawarah pemilihan, saya tidak hadir. Saya juga menjadi panitia ospek 2 tahun, pernah menjadi ketua panitia talkshow tingkat nasional, direktur tim trainer dan outbond, dan sejumlah kepanitiaan. Tapi jangan menyamakan saya dengan aktivis BEM yang kritis, kuliah lama, kaki tangan partai, dan semacamnya. Naif. Saya buta riset, dalam artian riset-riset yang dipublikasikan, memenangkan karya ilmiah, dan semacamnya. Riset mandiri yang saya lakukan murni hanya skripsi. Namun beberapa kali saya juga membantu riset teman-teman yang lolos karya ilmiah. Meskipun nama saya tidak dimasukkan sama sekali, hei, dan saya juga memang tidak memintanya sih. Saya juga tidak pernah memenangkan lomba secara mandiri. Lomba kolektif yang pernah saya menangkan adalah bersama teman-teman Peleton Inti di SMA dari tingkat kota hingga provinsi. Pernah pula saya mengikuti seleksi lomba MTQ mahasiswa bidang tahfidz, dua kali tak pernah lolos. Dan saya bersyukur tidak lolos, karena pondok saya kurang setuju santri-santrinya mengikuti lomba-lomba sedemikian.



Saya juga tidak heran dengan orang-orang yang dengan mudahnya mengisi pengalaman organisasi, riset, atau kejuaraan seenaknya sendiri. Saya tidak mengatakan mereka berbohong. Namun saya paham jika panitia LPDP terpesona pada riset-riset terbaru, jabatan-jabatan organisasi yang prestisius, dan semacamnya. Pernah saya lihat ada orang menuliskan posisinya sebagai ketua organisasi xxx nasional. Ternyata itu hanya organisasi buatannya sendiri, namun kosong kepengurusan dan programnya. Dan berbagai derivasi dari model tersebut sebagai pembesar identitas mereka. Apalah artinya saya yang hanya mengurus madrasah diniyah warisan pendahulu, menghidup-hidupinya, membesarkan hati anak-anak untuk mengaji, menguatkan konsolidasi antar ustadz, dan sebagainya. Jelas berbeda dengan para jawara, aktivis, atau periset yang layak mendapat beasiswa. Dan memang saya juga buta popularitas. Mengapa harus populer, bagaimana untuk populer, lalu mau apa jika sudah populer?



Semangat untuk belajar, untuk kuliah, jangan anggap surut meski saya tidak mendapatkan suntikan LPDP. Sejak SD, SMP, SMA, dan S1, bahkan ketika di pondok, saya selalu mendapat beasiswa. Entah full, atau sebagian. Pada akhirnya, alhamdulillah saya bisa melanjutkan S2 di UGM dengan beasiswa pula. Selain itu, di pondok saya juga diamanahi menjadi pembimbing asrama, yang artinya saya tinggal gratis di pondok bahkan mendapat bisyaroh cukup tiap bulannya, dan katering tiap pagi dan sore. Di luar sana banyak sekali beasiwa selain LPDP. Saya berani menulis judul di atas, karena saya sudah mendapat beasiswa lain, dan sudah tidak mungkin mendaftar LPDP lagi. Tapi jika LPDP memperbolehkan saya mendaftar lagi, saya tidak ragu untuk mendaftar. Saya hanya tidak mau menuhankan LPDP. Namun saya masih iri dengan salah satu kolega yang lain, seorang santri di Pesantren Krapyak. Dulu ketika kelas XII, dia memenuhi syarat untuk lolos beasiswa S1 di UNY. Namun karena kesalahan personal dari pihak sekolah yang keliru menulis angka pada nilai rapor, kolega saya gagal mendapatkan beasiswa di UNY. Ia berusaha mengurus ke sana dan kemari namun nihil. Ia bercerita bahwa sejak saat itu, ia bertekad bulat tidak akan mengharap bantuan orang lain. Ia menyewa sebuah kios lalu merintis sebuah usaha kuliner di dekat pondok, dan sekarang sudah memiliki 2-3 karyawan.





Tulisan saya ini tidak ada unsur kritikan sama sekali untuk LPDP atau pihak yang terkait, tidak pula ada unsur nasehat bagi awardee LPDP, calon awardee LPDP, atau teman-teman santri. Apalagi motivasi-inspirasi, tidak ada. Carilah motivasi-inspirasi dari awardee LPDP, merekalah mahasiswa berprestasi yang dibiayai negara, dibiayai rakyat, mintalah kompensasi dari sumbangan pajak kalian dan orang tua kalian pada mereka. Mereka bertanggung jawab untuk “mengembalikan” beasiswa negara. Saya menulis ini hanya karena teringat saya punya blog dan lama tidak menulis, itu saja. Tak usah lebay mengkritik tulisan saya atau share ke luar.


Sabtu, 10 Januari 2015

Nabi atau Wali?


            “Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani”.
            “Kenapa Dan? Tiba-tiba menyebut nama beliau?”

            “Sampeyan tahu Gan? Kalau kita ikut manaqiban, saya selalu terbayang-bayang ketika dikisahkan bagaimana Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani menghidupkan orang mati.” Ghani dan Hamdani asyik bercengkerama di pinggir masjid kampus. Asep yang tadi sibuk mengerjakan tugas kuliah tiba-tiba tertarik mendengar pembicaraan Ghani dan Hamdani tentang Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Maklum, Asep adalah orang baru dalam dunia tasawuf, ia selalu tertarik dengan segala pembicaraan tentang tasawuf. Terlebih salah satu tokoh populer dalam dunia tasawuf, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam acara-acara manaqib, Asep iri pada Ghani dan Hamdani yang lebih bisa memahami pembacaan manaqib karena keduanya lebih menguasai bahasa arab dibanding Asep. Kali ini, Asep tak ingin melewatkan kesempatan bisa mendapatkan sesuatu tentang apa yang sebenarnya dibacakan ketika manaqib.
            “Memangnya apa yang sebenarnya kau persoalkan Dan?” tanya Ghani.
            “Apa tidak aneh? Nabi Isa ‘alayhissalam ketika menghidupkan orang mati mengucapkan ‘qum bi idznillah’, tapi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang notabene seorang wali ketika menghidupkan orang mati beliau mengucapkan ‘qum bi idzniy’. Kok seakan-akan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani itu lebih hebat daripada nabi. Bagaimana menurutmu?”.
            “Kalau memang ternyata Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani lebih hebat dari Nabi Isa bagaimana Dan?”
            “Gak mungkin Kang, masak nabi kalah sama wali.” Asep ikut bergabung dengan percakapan seru ini. Hamdani mulai berpikir, apa mungkin seorang wali lebih hebat dari nabi.
            “Menurutmu tingkatan manusia paling tinggi itu siapa Dan?” tanya Ghani.
            “Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam” jawab Hamdani.
            “Lalu?”
            “Para rasul ‘alayhim sholatu wa salam”
            “Lalu?”
            “Para anbiya ‘alayhim sholatu wa salam”
            “Lalu?”
            “Para auliya?”

            “Dalam urut-urutan ini saja, setahuku ada banyak pendapat Dan. Ada versi yang menyebutkan seperti apa yang kau sebutkan, tapi ada juga yang menyebutkan bahwa setelah Kanjeng Nabi adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum baru kemudian para rasul. Tapi poin pentingnya, apakah derajat itu berbanding lurus dengan kehebatannya? Maksudku, apakah para anbiya selalu lebih hebat daripada para auliya? Apakah Nabi Isa lebih hebat dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani?”
            “Menurutku seharusnya demikian Gan, seorang nabi harusnya lebih hebat daripada seorang wali.”
            “Tapi wali yang satu ini bukan seorang wali biasa, beliau penghulu para wali, sulthonul auliya, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, bagaimana menurutmu?”
            “Tetap saja, maqom keduanya jelas beda. Nabi menerima wahyu langsung dari Gusti Allah sedangkan para wali tidak.”
            “Betul, betul, kau sendiri ingat bagaimana kisah pertemuan pertama Jalaludin Rumi dengan  Syamsudin Tabrizi?”
            Pertanyaan Ghani kali ini membuat Hamdani terhenyak. Sebagai orang yang menekuni tasawuf, Hamdani cukup kenal betul dengan sufi satu ini, Jalaludin Rumi. Termasuk kisah pertemuan Rumi dengan Tabrizi yang mengubah jalan hidup Rumi dari ulama legal-formal yang berkutat dalam hukum-hukum positif menjadi seorang melankolis yang jauh dair hingar bingar kehidupan dunia. Atau menurut Hamdani, dari orang yang mencintai Tuhan menjadi orang yang dicintai Tuhan. Hamdani merenungi kembali kisah pertemuan Rumi dengan Tabrizi. Rumi, seorang ulama yang juga seorang hakim masyhur di kotanya suatu hari ditemui Tabrizi, seorang darwis yang terbiasa hidup terasing dalam pengembaraan. Dalam pertemuan pertama antara keduanya, Tabrizi melontarkan pertanyaan pada Rumi.

            “Hai ulama yang agung, siapa yang lebih hebat antara Abu Yazid Al-Busthomi dan Nabi Muhammad?”
            “Tentu saja, Nabi Muhammad yang lebih hebat daripada Abu Yazid Al-Busthomi!” jawab Rumi tegas dengan pembawaan layaknya seorang hakim memutuskan suatu perkara.
            “Nabi Muhammad pernah bersabda ‘Ya Allah, aku belum mampu mengenali-Mu dengan pengetahuan sebagaimana Engkau mengenali diri-Mu’ sedangkan Abu Yazid Al-Busthomi pernah mengatakan ‘Betapa Agung muara-Ku, kemuliaan datang kepada-Ku ketika Aku diangkat, Akulah yang derajatnya ditinggikan’. Bagaimana menurutmu?
            “Tentu saja, itu karena Abu Yazid sudah terpuaskan dalam setetes pengetahuan karena wadah yang ia miliki kecil. Sedangkan Nabi Muhammad memiliki wadah yang besar sehingga setiap mendapat tetesan dari Allah beliau selalu merasa kehausan dan kekurangan” jawaban Rumi ini membuka selubung-selubung antara keduanya. Baru kali itu Tabrizi mendapatkan jawaban yang memuasakan setelah sekian lama ia mengembara dan menanyakan hal tersebut kepada para ulama namun tidak ada satupun yang memberikan jawaban yang memuaskan. Rumi sendiri baru kali itu mendapat pertanyaan yang unik dari orang yang asing yang membuat Rumi sangat menyukai Tabrizi dan menjadi sahabat sejatinya.

            “Bagaimana Dan?” Ghani memecah renungan Hamdani seolah Ghani mampu mengikuti renungan Hamdani sampai selesai.
            “Kupikir, bagaimanapun, para nabi tetap diatas para wali.”
            “Lalu bagaimana kau merasionalisasi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang mengucapkan ‘qum bi idzniy’ ketika menghidupkan orang mati?”
            “Kedewasaan Gan, kedewasaan. Para wali mungkin ibarat anak kecil yang senang dengan mainannya, barangkali itulah yang membuat para wali sering memamerkan kemampuan spiritualnya. Sedangkan para nabi sudah cukup dewasa, cukup arif, dan bijaksana melampaui sifat kekanak-kanakan orang yang senang dengan mainannya.”
            “Betul Dan, aku jadi berpikir, kalau ada wali namun tidak menunjukkan kewaliannya, tidak menunjukkan kemampuan spiritualnya, berarti tinggi betul kedudukan wali tersebut ya?”
            “Iya, Ghan. Daripada sampeyan yang kayaknya lebih tahu ilmu tasawuf, aku lebih yakin Asep ini lebih wali daripada dirimu.”
            Asep sendiri masih memandang kosong kedua sahabatnya tadi. Ia masih meraba-raba apa makna qum bi idznillah dan qum bi idzni, lalu kisah pertemuan Jalaludin Rumi dan Syamsudin Tabrizi. Hamdani dan Ghani tertawa melihat seorang wali di depan mereka.