Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cari Blog Ini

Selasa, 05 Juli 2011

Ilmu itu ibarat wanita shalihah

Bahwa kewajiban ilmu adalah pasti, sudah tak dipungkiri. Manusia dari segala tempat dan zaman begitu mencintainya. Layaknya orang yang saling mencintai, berbagai ungkapan muncul untuk mengungkapkan kekaguman.

Sabda Rasulullah Shallallahu‘alaihi wassalam, “Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas ra)
Disebutkan juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim hadits dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu yang berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wassalam bersabda:
Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diutus Allah kepadaku seperti hujan yang membasahi bumi. Ada bumi yang subur yang menerima air kemudian menumbuhkan rumput yang banyak. Ada bumi yang keras yang menahan air kemudian dengannya Allah memberi manfaat kepada manusia. Mereka meminum dari air tersebut, memberi minum hewan ternaknya, dan bercocok tanam. Hujan juga membasahi bumi yang lain, iaitu lembah yang tidak mampu menahan air dan menumbuhkan rumput. Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Allah kemudian mendapat manfaat dari apa yang aku diutus dengannya. Ia belajar dan mengajar. Dan itulah perumpamaan orang yang tidak dapat diangkat kedudukannya oleh petunjuk Allah, dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Selain pengibaratan dari Rasulullah SAW, para shahabat ra pun memuji kemuliaan ilmu, sebagaimana ucapan sang Pintu Ilmu, Sayyidina Ali kw:
"Ilmu ibarat hewan peliharaan dan tulisan adalah tali kekangnya,oleh karena itu ikatlah ilmu mu dengan menuliskannya"

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan,
Ilmu adalah laksana pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu

Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata,
Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)”

Ibn Al-Qayyim mengatakan bahwa,
Sesungguhnya ilmu adalah sinar yang diletakkan oleh Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut


Hingga zaman yang semakin berkembang ini, manusia semakin kreatif membuat pengibaratan ilmu. Diantaranya:
Ilmu itu ibarat telur, walaupun keluar dari tempat yang biasa keluar kotoran, kalau yang keluarnya itu telur, ya ambil.

Ilmu ibarat air, ia mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah

Ilmu ibarat emas, di mana pun tempatnya, kedudukannya terhormat.

Ilmu ibarat kulit dan isi, orang yang paling beruntung adalah orang yang memulai isi kemudian kulit”.

Ilmu ibarat mutiara yang bertaburan, berserakan di jalan, terselip di semak, berada di padang pasir tandus, terbenam di samudra, terlempar ke angkasa. Adapun manusia yang berhasil memungut satu dari banyak mutiara itu, diapun sudah merasa hebat dan tidak mau menerima mutiara yang lain.

Para cendekiawan dari barat pun tak ketinggalan membuat perumpamaan ilmu. Diantaranya:
Science is like a good friend: sometimes it tells you things you don't want to hear

Science is like a blabbermouth who ruins a movie by telling you how it ends!

Science is like a tree. Because its roots are bitter but its fruit is sweet.

Science is like twitter, everybody is publishing as fast as they can, but only very few are reading, and even fewer summarizing

“Science is like a puzzle. There is always a problem to solve. Usually the problem is broken down into pieces, much like a puzzle, to help understand and solve the problem

Science is like everything present in this universe. It also contain both good and bad qualities like everything except it is not ordinary like any other thing, it is the advancement of the men. Its from men, its for men and it works for men.

Science is a good servant but a bad master.

Science is like a pencil: you need to cut away the dead wood to make a sharp point


Dari berbagai pengibaratan diatas, saya lebih mudah mengingat apa yang disampaikan Gus Dzakir, Krapyak. Beliau juga ikut-ikutan mengibaratkan ilmu. Hal tersebut beliau sampaikan pada suatu hari saat mengaji kitab Alala:
Ilmu itu ibarat wanita shalihah. Ketika anda sudah menikahi dan mencintainya, maka anda akan menyesal tidak melakukannya sejak dulu.