Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cari Blog Ini

Minggu, 25 Desember 2011

Beberapa potong episode Simbah KH Zainal Abidin Munawwir

Simbah KH Zainal Abidin Munawwir, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, sudah tak asing lagi nama beliau yang mayhur dengan ketawadhu’annya. Banyak sekali cerita-cerita tentang kezuhudan beliau di kalangan masyarakat. Beliau bukan tipe ulama yang mencari popularitas dengan banyak bicara mengucapkan kata-kata penuh istilah maupun mengobral kalimat-kalimat mutiara singkat. Beliau lebih banyak menunjukkan budi pekerti luhur beliau dengan peri-kehidupan yang dihiasi akhlak.

******************************************

Ketika dulu ingin naik haji, Mbah Zainal Abidin Munawwir menabung segobang demi segobang. Berapa pun yang terkumpul setiap tahun, beliau menzakatinya, walaupun belum mencapai nishob. Mbah Ali Ma'shum rahimahullah, kakak ipar dan gurunya, terkekeh-kekeh mendengar laku yang demikian itu.

"Itu fiqh model apa?" beliau meledek.

Dengan mesem (yang hingga kini jarang terlihat beliau tertawa hingga kelihatan giginya), yang diledek hanya bergumam,

"Yah... siapa tahu yang begini ini lebih disukai Pengeran..."

Mbah Ali Ma'shum jelas hapal tingkah adik ipar sekaligus anak muridnya itu.

"Zainal itu adikku yang paling antik!" kata Mbah Ali, setengah bergurau, "Dia itu cagaknya langit. Selama dia masih ada, nggak bakalan kiamat!”

******************************************

Pada waktu yang lain, Mbah Zainal menyuruh Kang (sekarang kiyai:) Ali As'ad, santrinya, untuk membelikan pedal sepeda karena milik beliau sudah rusak. Tapi kebetulan Kang Ali As'ad punya sepasang pedal masih bagus yang tak terpakai. Maka ia tawarkan untuk dipakai Mbah Zainal, dan diterima.

Saat hendak berangkat haji beberapa bulan kemudian, Mbah Zainal memanggil Kang Ali As'ad.

"Ada apa, Mbah?"

Mbah Zainal mengulurkan sepasang pedal sepeda.

"Ini pedalmu yang dulu kupinjam, kukembalikan. Aku mau pergi haji... biar nggak ada tanggungan lagi..."

******************************************

Mbah Zainal Abidin Munawwir juga pernah satu periode menjadi anggota DPRD Kabupaten Bantul, wakil dari Partai Nahdlatul Ulama. Selama itu, beliau wira-wiri ke kantor tiap hari dengan sepeda onthel tua miliknya. Beliau juga tidak mau mengambil gaji bulanannya maupun uang apa pun dari DPRD itu, karena menganggapnya syubhat. Beliau ngotot mengandalkan nafkah hanya dari telur sejumlah bebek yang dipeliharanya.

"Karena Kang Zainal nggak mau, ya aku yang ngambil gajinya", kata kiyai Ahmad Warson Munawwir, adik Mbah Zainal, sambil senyum-senyum menikmati kenangannya.

"Waktu itu Kang Zainal belum kawin", Mbah Warson menyambung, "sedangkan aku pengantin baru. Jadi... aku yang kawin, Kang Zainal yang menafkahi!"

******************************************

"Ke Nggading berapa, Kang?" Mbah Zainal Abidin Munawwir, Krapyak, menawar becak.

"Monggo mawon. Terserah panjenengan, Mbah", tukang becak pasrah karena sudah kenal.

"Nggak bisa! Sampeyan harus kasih harga!"

"Yah... seribu, Mbah". Itu harga yang cukup lazim waktu itu, walaupun sedikit agak mahal.

"Lima ratus ya!"

Tukang becak nyengir,

"Masih kurang, Mbah..."

"Enam ratus!"

Tukang becak masih nyengir.

"Ya sudah... tujuh ratus!"

Tukang becak sungkan membantah lagi dan mempersilahkan Mbah Zainal naik.

Sampai tempat tujuan, Mbah Zainal mengulurkan selembar uang ribuan tapi menolak kembaliannya. Tukang becak bengong.

"Kalau tadi kita sepakat seribu, aku cuma dapat pahala wajib", kata Mbah Zainal, "kalau begini ini kan yang tiga ratus jadi shodaqohku".

******************************************

Mbah Zainal tidak merokok. Untuk urusan makanan, selama ini beliau dikenal tidak doyan makan makanan dari sesuatu yang bernyawa (daging/telur). Beliau terbiasa hanya berlauk tahu/tempe, bahkan beliau lebih sering seharian hanya mengkonsumsi mie instan, itupun setengah porsi. Beliau juga tidak suka makanan yang terlalu beraroma.

Suatu ketika di dapur, Bu Nyai Ida (istri beliau) memasak makanan yang aromanya tercium hingga ruang tamu tempat Mbah Zainal berada saat itu.

“Masak apa to Da? Kok bikin bau sampai sini. Mbok jangan masak yang baunya berlebihan seperti itu, saya ndak mau makan”

Bu Nyai Ida yang sudah terlanjur masak pun hanya bisa menimpali sederhana

“Ini sudah matang. Ya sudah kalau tidak mau ini makanannya saya buang saja”

Mbah Zainal kaget,

“Eh, jangan. Yasudahlah, sini saya makan saja.”

******************************************

Suatu hari, KH Munawwar mengantarkan beliau memenuhi undangan salah seorang alumni di luar kota. Ketika itu acara makan siang di sebuah tempat pemancingan ikan. Mbah Zainal yang sehari-harinya dipenuhi puasa sunnah, memperhatikan ikan-ikan yang dipancing. Ia yang begitu sensitif dan peka perasaannya, langsung memanggil KH Munawwar.

“Eh eh, itu mancing ikannya kok di tusuki di mulutnya pakai pengait?”

KH Munawwar dan yang lain pun kebingungan,

“Ya memang seperti itu caranya mancing ikan mbah” Jawab KH Munawwar.

Mbah Zainal dengan agak tidak terima langsung menimpali,

“Coba kalau mulutmu yang ditusuki seperti itu bagaimana?”

******************************************

Masih banyak lagi kisah-kisah penuh hikmah dari beliau. Cerita-cerita seperti ini dikenal luas terutama di kalangan santri beliau.

Saat ini, beliau sedang gerah dan belum lama pulang dari RS Sardjito. Beliau sudah tidak seaktif dulu lagi untuk mengimami sholat di masjid pusat, bahkan ketika sholat Jum’at pun beliau sholat dari serambi ndalem beliau. Beliau juga tak bisa mengajar santri dengan penuh lagi. Saya juga kesulitan untuk mencium tangan beliau sebagaimana sesudah sholat jama’ah di masjid pusat ketika beliau masih mengimami.

Mari kita doakan beliau, semoga barokah ilmu beliau senantiasa bertebaran di antara kita, dipanjangkan umur beliau, diberi kesehatan laa yughodiru saqoma, dan semoga beliau juga turut mendoakan kita dalam munajat-munajat beliau.

Ilaa hadlrotisy-Syaikh Zainal Abidin bin Muhammad Munawwir bin Abdillah Rosyad, Al-Faatihah.