Cari Blog Ini

Rabu, 24 Agustus 2011

Iqbal, santri Krapyak dari Jakarta


      Suasana pondokan krapyak pada suatu dini hari selepas shubuh itu seperti biasanya. Tenang, dan sayup-sayup terdengar suara santri putra menyenandungkan Asmaul Husna dari sebuah komplek putra. Di komplek putri, terdengar juga beberapa santriwati merapalkan sebuah bacaan yang menurut saya mereka sedang menambah hafalan Al-Qur’an. Beberapa dari mereka duduk di pinggir jalan di depan kompleknya dengan memegang mushaf Al-Qur’an dan sesekali melihatnya, sesekali pula menutup mata sambil terus berkomat-kamit. Ada juga yang berpasangan dimana salah seorang merapalkan, dan yang lain menyimak. Saya suka pemandangan seperti ini. Maksud saya, pemandangan orang-orang yang sedang menambah hafalan, bukan santriwatinya karena sebagian besar mereka masih mengenakan mukena. Di depan Komplek Huffadz I, beberapa santri tahfidzmenyapu halaman depan Komplek Huffadz I sambil diperhatikan dari teras oleh Simbah KH. R. Nadjib Abdul Qadir Munawwir, sang otoritas pemegang sanad qiro’ah. Sementara dari Komplek Huffadz II, terdengar beberapa santri merapalkan bacaan-bacaan Al-Qur’an sambil terus diulang-ulang ayat yang sama dan terus mencoba agar lebih fasih di lantai dua. Saya sempat mendengar salah satu dari mereka masih ada yang juz ‘amma, barangkali santri baru. Sepekan sebelumnya, Komplek Huffadz mengadakan khataman dan mewisuda santri-santrinya yang berjumlah 30an lebih yang sudah menamatkan 30 juz Al-Qur’an bil ghoib alias resmi jadi hafidz dan mendapatkan ijazah dari Mbah Nadjib yang sanadnya bersambung hingga Kanjeng Nabi SAW. Saya masih ingat, mereka terlihat keren saat khataman dengan mengenakan jas hitam, songkok hitam, dan sorban hijau yang diselempangkan. Beberapa santriwati dari bagian tempat duduk putri tampak memotret mereka seru sekali sambil cekikikan dengan temannya. Tampaknya para hafidz-hafidz muda nan keren itu berhasil menyihir para santriwati hingga klepek-klepek.

***

            Simbah Kiai Zainal, sang pengasuh pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta baru saja selesai mengimami sholat shubuh di masjid pusat. Setelah memimpin doa, beliau biasa wirid-an sendirian hingga kira-kira 20-30 menitan lamanya. Jama’ah yang biasanya menunggu untuk bersalaman dan mencium tangan beliau satu persatu mulai keluar dari masjid dengan tangan hampa. Hingga akhirnya Mbah Zainal beranjak dari wirid-annya, hanya tersisa 3 jama’ah yang ada di 2shof terdepan, yang akhirnya berhasil meraih dan menyalami dan mencium tangan beliau yang memang seorang ulama kharismatik nan tawadhu’. Orang-orang mencium tangan beliau bukan lantaran ingin ketularan jadi Kiai, melainkan kecipratan berkah darinya. Tujuan dari orang mencium tangan seorang Kiai atau Ulama adalah 2 hal: ta'dzim dan tabarruk. Ta'dzim untuk menghormati kepada beliau. Lalu tabarruk karena dawuh Kanjeng Nabi SAW, barokah itu ada pada orang tua dan juga guru. Beruntungnya, saya termasuk salah seorang dari tiga orang jama’ah yang bertahan menunggu di situ. Setelah mencium tangan beliau, kami menunggu beliau berjalan keluar menuju rumah beliau di utara masjid yang berjarak sekitar 20 meter. Setelah itu saya berjalan keluar masjid, menuju jalan D.I Panjaitan, masih lengang dan sejuk. Beberapa teman saya di Komplek L yang tiap pagi ngeloper koran sudah mulai bergegas menyongsong rejeki. Beberapa warung yang biasa dilanggani para santri untuknyarap sudah ada yang buka.

            “Mas, mas….!”
            Tiba-tiba dari arah belakang ada suara seseorang memanggil. Arah di belakang saya adalah sekitaran komplek putri. Dengan sedikit semangat kege-eran, saya bertanya-tanya jangan-jangan dia salah seorang santriwati. Ada apa memanggil saya? Apa kopiah saya terjatuh? rasanya tidak. Kopiah putih pemberian ibu saya ini masih melekat hangat di kepala. Saya pun dengan agak elegan dan sokdingin berpura-pura tidak dengar dan menduga mungkin ia memanggil orang lain. Baru beberapa langkah saya sambung, suara orang yang memanggil itu sudah ada di samping kiri sambil terangah-engah karena berlari mengejar saya.

            “Mas, mas. Kami mau tanya mas…” dan kege-eran saya ternyata harus saya telan kembali. Dua orang bocah laki-laki bersarung ternyata yang memanggil saya.

            “Mas, tahu makam Kiyai Haji Ali Maksum tidak?”  
            Kaget betul saya. Pagi-pagi sedini ini ada dua anak menanyakan letak kuburan. Coba saya lihat kedua kaki mereka, masih menempel ditanah. Saya ingat salah seorang Kiai saat mengaji kitabDurratun Nashihin, bahwa jin atau syaithon yang menyamar jadi manusia itu biasanya jam kerjanya antara Maghrib sampai Shubuh. Mereka (para jin dan syaithon yang menyamar) harus kembali ke kuburan sebelum Shubuh. Jangan-jangan dua anak ini tuyul endonesa yang terbiasa dengan jam karet hingga telat pulang bahkan lupa dimana mereka harus kembali! Ah, mana mungkin jin dan syaithon mangkal di makam ulama pikir saya. Saya mau tak mau harus menjawab juga.

            “Oh itu, tempatnya di daerah Dongkelan. Tahu nggak?”
            “Dongkelan? Nggak mas.”
            Hah? Mereka tidak tahu Dongkelan ternyata. Padahal saat itu kami berada di dekat pertigaan yang jalan kebaratnya adalah Jalan Dongkelan bahkan ada papan penunjuk jalan yang bisa dibaca dari situ. Tapi tak apa, karena dimana-mana memberi tahu orang itu harus sesuai kadar pengetahuan mereka. Saya coba cari pendekatan lain.

            “Emmm, kalau perempatan Ring Road Jalan Bantul tahu nggak?”
            Saya sempat menyesal menanyakan ini. Baru Jalan Dongkelan yang lebih dekat saja mereka tidak tahu. Tapi tidak mengapa, namanya juga memberi tahu sambil asesmen kemampuan load mapmereka.

            “Nggak tahu juga mas.”
            “Mau apa kesana memangnya?”
            “Mau ziaroh mas, kami ketinggalan sama temen-temen yang sudah duluan”.

            Sepertinya dua orang ini memang bukan orang asli disini. Mungkin santri dari kota lain. Akhirnya saya memutuskan untuk mengantar mereka. Jaraknya dari situ jika ditarik garis lurus mungkin hanya sekitar 1 kilometer, namun harus berkelak-kelok hingga ngalang ke Ring Road untuk mencapainya. Pakai motor saja! Ah, tapi jam segini Komplek L masih ditutup gerbangnya. Mana bisa saya mengeluarkannya. Ya sudah, jalan kaki sekaligus diniati olahraga saja. Sudah lama nian kaki ini tidak bekerja ekstra.

            “Ayo, saya antar saja. Nggak begitu jauh kok” mereka menyetujui ajakan saya. Sekalian saja nanti saya ikut ziaroh meskipun sore hari sebelumnya saya dan teman-teman Komplek L baru saja ziaroh dan muqoddam-an di situ.

            Kami berjalan menyusuri Jalan Dongkelan menuju arah barat. Kami juga mengobrol sambil berkenalan juga. Dua orang itu ternyata santri baru MTs Ali Maksum. Mereka adalah Iqbal, dari Jakarta dan seorang lagi dari Indramayu. Anak dari Indramayu ini saya susah mengeja namanya. Sekilas terdengar seperti Asya, mungkin juga Asha, Ahsa, Ahsya, Asa, Ahsha, tapi tidak mungkin Aysha (lho, bisa jadi malah itu) tapi bisa juga namanya Asep tapi dibuat menjadi lebih unik.  Iqbal ini tingginya sekitar sesikut saya. Tinggi saya sendiri 170 cm kurang sesenti-dua senti (pembulatan ke atas dalam hal tinggi dan berat badan terasa lebih menyenangkan bagi saya), Asya sekitar 5 senti lebih tinggi dibanding Iqbal. Dua anak itu baru sekitar seminggu menjalani masa-masa menjadi santri MTs Ali Maksum. Iqbal adalah anak yang lucu dan bersemangat. Sedangkan Asya lebih banyak diam, namun juga menjawab ketika saya tanya meskipun tak sejelas dan sebersemangat Iqbal. Iqbal yang lebih pendek posturnya memiliki logat Jakarta yang kental yang membuatnya lucu ketika bicara. Kalau ada air keras saat itu, ingin rasanya saya jadikan si Iqbal ini menjadi gantungan kunci dan saya gantungkan di tas saya. Lucu sekali anak satu ini! Jadi ternyata mereka ini esok tadi ketinggalan rombongan teman sepondokkan mereka untuk ziaroh ke makam pagi itu. Mereka bangun jam setengah 5 pagi, lalu sholat shubuh bersama. Setelah itu, mereka membaca Asmaul husna. Baru kemudian mereka mandi. Nah setelah mandi itulah mereka mendapati bahwa teman-teman dan ustadz pembimbing sudah berangkat ke makam. Dan mereka berdua segera menyusul dan mencari tahu lokasi makam terlebih dahulu dengan bertanya pada orang yang tahu tempatnya dan kebetulan orang itu adalah saya.

            Kami bercerita ngalor ngidul mulai dari tentang pondok, erupsi merapi, sungai winongo, teroris, koruptor, pasar hewan PASTY, ring road, dan banyak sekali. Iqbal juga orang yang japemethe. Ketika menemui orang asing di jalan, kerap kali ia melemparkan senyum sambil menganggukkan kepala dan beberapa dengan sapaan ringan seperti “mari pak”, “mari bu”, dan sebagainya. Sepertinya Iqbal ini begitu menikmati hidupnya sebagai santri disini. Saya pun bertanya kepada mereka tentang latar belakang mereka mondok di Krapyak.

            “Kalian dulu mondok disini karena keinginan sendiri atau disuruh orang tua?”
            “Disuruh ibu mas.” Asya menjawab pertama dengan sederhana, ringkas, datar, dan memaksa saya untuk mengerti bahwa ia agak kurang menikmatinya. Tidak ada raut sedih di wajahnya, bahkan disertai sesuwir senyuman. Tapi entah kenapa saya tidak mau menindaklanjuti jawabannya.
            “Kalau Iqbal?”
            “Pengen sendiri mas.”
            “Wah, pengen sendiri. Memangnya kenapa kok ingin mondok? Apalagi jauh-jauh dari Jakarta ke Krapyak”
            “Soalnya aku pengen membuat bangga orang tua. Moga-moga dengan masuk pondok ini orang tuaku bisa bangga.” Hmmm, saya sedikit mencerna omongan anak ini. Se-awam-an saya, jaman sekarang membuat bangga orang tua itu dengan cara masuk SMP favorit, bernilai excellent, dapat beasiswa, memenangkan kejuaraan, mengharumkan nama baik keluarga, dan sejenisnya. Apalagi notabene ia orang Jakarta (memangnya kenapa kalau Jakarta?). Jadi menerawang tentang masa lalu saya. Orang tua ingin memondokkan saya di Gontor, tapi saya bersikeras ingin masuk SMP 5 Jogja yang saat itu merupakan SMP terbaik se-provinsi DIY. Tapi tak dipungkiri, dalam hati kecil saya memang ingin di pondok juga. Saya baru bersedia di Gontor kalau tidak diterima di SMP 5. Dan Alhamdulillah saya diterima di SMP 5. Namun belakangan saya membaca sebuah novel karya Ahmad Fuadi tentang kisah kehidupannya di Pondok Gontor, entah kenapa saya iri dengannya. Padahal, delapan tahun yang lalu pintu kesana benar-benar dibukakan oleh orang tua saya. Tapi ini bukan saatnya meratapi pilihan sulit di masa lalu. Karena, dalam setiap keputusan kita dalam pilihan sulit, terjadi proses pendewasaan diri kita. Saya percaya, semakin sering seseorang berhadapan dan melewati berbagai keputusan sulit, hal itu semakin membuat seseorang lebih dewasa. Dan tentang Iqbal ini, saya percaya sepenuhnya bahwa ia adalah prototype anak sholeh langka idaman mertua dan orang tua. Selain wajahnya yang good-looking, di usia yang belia ini sangat mujarab dalam penanaman nilai-nilai dan pengetahuan agama. Iqbal sangat bersyukur bisa mondok. Ia bercerita tentang temannya yang berasal dari berbagai daerah. Kalimantan, Riau, Jawa Timur, dan sebagainya. Dari cara Iqbal bicara pun ia memang orang yang luas wawasannya. Bahkan ia sempat tanya kepada saya kenapa di negeri ini begitu merajalela koruptor dan teroris. Jangan membayangkan Iqbal akan mengutarakan hal analitis nan strukturalis. Paling tidak, semangat peduli kepada kondisi bangsa sudah ada pada dirinya.

Semakin besar saja harapan saya pada anak muda ini. Cobalah anda lihat dari cara mata dan alisnya ketika memandang. Lalu bacalah buku psikologi populer tentang mata dan caranya memandangnya. Anda akan mendapati Iqbal sebagai orang yang visioner, fokus, optimis, sumringah, tidak ngelamunan, apalagi menggalau. Bukan tidak mungkin, bahwa pada beberapa khataman yang akan datang, Iqbal-lah yang berdiri di panggung mengenakan jas dan songkok hitam bersorban hijau dalam selempangan dan menjadi idola para santriwati, atau lebih-lebih malah jadi seorang  yang punggung tangannya saja dirindukan banyak orang yang mengantri selepas sholat berjama’ah? Wallaahu a’lam.
Apapun itu, “Sungguh besar nyalimu wahai sobat kecilku, menantang hidup mengejar waktu. Tiada yang mampu menghentikan langkah kakimu, doaku untuk kemenanganmu.

Mudah-mudahan semangat Iqbal dari observasi dan wawancara singkat saya ini bisa menginspirasi kita.

H+1 setelah itu: keesokan paginya pangkal kaki kiri saya pegal karena mengantarkan kedua anak itu.

Selasa, 05 Juli 2011

Ilmu itu ibarat wanita shalihah

Bahwa kewajiban ilmu adalah pasti, sudah tak dipungkiri. Manusia dari segala tempat dan zaman begitu mencintainya. Layaknya orang yang saling mencintai, berbagai ungkapan muncul untuk mengungkapkan kekaguman.

Sabda Rasulullah Shallallahu‘alaihi wassalam, “Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas ra)
Disebutkan juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim hadits dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu yang berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wassalam bersabda:
Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diutus Allah kepadaku seperti hujan yang membasahi bumi. Ada bumi yang subur yang menerima air kemudian menumbuhkan rumput yang banyak. Ada bumi yang keras yang menahan air kemudian dengannya Allah memberi manfaat kepada manusia. Mereka meminum dari air tersebut, memberi minum hewan ternaknya, dan bercocok tanam. Hujan juga membasahi bumi yang lain, iaitu lembah yang tidak mampu menahan air dan menumbuhkan rumput. Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Allah kemudian mendapat manfaat dari apa yang aku diutus dengannya. Ia belajar dan mengajar. Dan itulah perumpamaan orang yang tidak dapat diangkat kedudukannya oleh petunjuk Allah, dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Selain pengibaratan dari Rasulullah SAW, para shahabat ra pun memuji kemuliaan ilmu, sebagaimana ucapan sang Pintu Ilmu, Sayyidina Ali kw:
"Ilmu ibarat hewan peliharaan dan tulisan adalah tali kekangnya,oleh karena itu ikatlah ilmu mu dengan menuliskannya"

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan,
Ilmu adalah laksana pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu

Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata,
Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)”

Ibn Al-Qayyim mengatakan bahwa,
Sesungguhnya ilmu adalah sinar yang diletakkan oleh Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut


Hingga zaman yang semakin berkembang ini, manusia semakin kreatif membuat pengibaratan ilmu. Diantaranya:
Ilmu itu ibarat telur, walaupun keluar dari tempat yang biasa keluar kotoran, kalau yang keluarnya itu telur, ya ambil.

Ilmu ibarat air, ia mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah

Ilmu ibarat emas, di mana pun tempatnya, kedudukannya terhormat.

Ilmu ibarat kulit dan isi, orang yang paling beruntung adalah orang yang memulai isi kemudian kulit”.

Ilmu ibarat mutiara yang bertaburan, berserakan di jalan, terselip di semak, berada di padang pasir tandus, terbenam di samudra, terlempar ke angkasa. Adapun manusia yang berhasil memungut satu dari banyak mutiara itu, diapun sudah merasa hebat dan tidak mau menerima mutiara yang lain.

Para cendekiawan dari barat pun tak ketinggalan membuat perumpamaan ilmu. Diantaranya:
Science is like a good friend: sometimes it tells you things you don't want to hear

Science is like a blabbermouth who ruins a movie by telling you how it ends!

Science is like a tree. Because its roots are bitter but its fruit is sweet.

Science is like twitter, everybody is publishing as fast as they can, but only very few are reading, and even fewer summarizing

“Science is like a puzzle. There is always a problem to solve. Usually the problem is broken down into pieces, much like a puzzle, to help understand and solve the problem

Science is like everything present in this universe. It also contain both good and bad qualities like everything except it is not ordinary like any other thing, it is the advancement of the men. Its from men, its for men and it works for men.

Science is a good servant but a bad master.

Science is like a pencil: you need to cut away the dead wood to make a sharp point


Dari berbagai pengibaratan diatas, saya lebih mudah mengingat apa yang disampaikan Gus Dzakir, Krapyak. Beliau juga ikut-ikutan mengibaratkan ilmu. Hal tersebut beliau sampaikan pada suatu hari saat mengaji kitab Alala:
Ilmu itu ibarat wanita shalihah. Ketika anda sudah menikahi dan mencintainya, maka anda akan menyesal tidak melakukannya sejak dulu.

Minggu, 12 Juni 2011

Siapa yang mengatakan bersedekah itu membuat kita miskin?

Siapa yang mengatakan bersedekah itu membuat kita miskin?
Siapa yang mengatakan bahwa membantu orang lain akan merugikan waktu kita? Pikiran kita? Tenaga kita? Harta kita?

Bahwa setiap apa yang kita sedekahkan, apapun itu, akan digantikan oleh Allah. Itu sudah pasti dan sudah dijanjikan dalam kalam-Nya.
Barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan sebesar biji dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS Al-Zalzalah 7)

Jika digantikan dengan yang setimpal kita anggap masih kurang, ingatlah firman-Nya yang lain, bahwa ia menjanjikan dua kali lipat balasan.
“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan”(QS Al-Qashash 54)

Dua kali lipat masih kurang? Bagaimana kalau sepuluh kali lipat? Bayangpun!
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya…” (QS Al-An’am 160)

Okelah jika sepuluh kali lipat masih kurang. Manusia memang tak pernah puas. Allah menjanjikan 700 kali lipat untuk kita. Itupun kalau kita mau.
Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir ada seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah 261)

Kurang lagi? Nih, Allah menjanjikan balasan berlipat hingga “banyak”.
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah) maka Allah akan memperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak…” (QS Al-Baqarah 245)

Untuk terakhir kalinya, jika balasan yang banyak masih kurang, Allah menjanjikan balasan hinggaunlimited alias tanpa batas.
…sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”(QS Az-Zumar 10)

Tahukah kita bahwa sedekah yang kita sampaikan ke penerima, terlebih dulu mampir kepada Allah SWT? Sedekah itu ketika mampir kepada Allah SWT berbicara:
1. Aku kecil maka besarkanlah oleh-Mu
2. Aku sedikit maka perbanyaklah oleh-Mu
3. Aku jadi musuh maka cintailah oleh-Mu
4. Aku rusak maka tetapkanlah (kekal) oleh-Mu
5. Engkau telah menjagaku, maka sekarang aku akan menjadi penjagamu

Dan tahukah kita bahwa ternyata ada 7 perkara yang merupakan rahasia dalam sedekah?
  1. Sesungguhnya sedekah itu akan menjaga kita dari malapetaka
Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Sedekah itu akan menolak 70 pintu malapetaka
  1. Sedekah juga merupakan dokter
Sabda Nabi SAW: “Obatilah sakitmu dengan sedekah
  1. Sedekah akan menjaga harta kita
Sabda Nabi SAW: “Jagalah hartamu dengan sedekah
  1. Sedekah dapat menjaga diri dari murka Allah
Sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya sedekah itu dapat menjaga kemurkaan Tuhan
  1. Sedekah membentuk kasih saying kepada sesame
Sabda Nabi SAW: “Sedekah adalah hadiah, sedangkan saling memberikan hadiah itu akan dicintai
  1. Sedekah dapat melembutkan hati
Sabda Nabi SAW: “Barangsiapa hatinya keras, maka tebarkanlah sedekah
  1. Sedekah dapat memperpanjang usia
Sabda Nabi SAW: “Sedekah itu akan menolak balak dan menambah umur.

Tak akan pernah ada yang sia-sia dari apapun yang kita sedekahkan, apapun yang kita korbankan. Harta, waktu, pikiran, tenaga, dan lain sebagainya adalah milik bersama yang perputarannya harus senantiasa kita jaga. Mari bersama-sama memanfaatkan segala sesuatu untuk kepentingan bersama dan jangan pernah merasa takut untuk kekurangan lantaran memberi.

Pernah ada sebuah kisah, Umar bin Khattab ra bercerita: Suatu hari seorang laki2 datang menemui Rasulullah Saw. Untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan hari laki2 itu datang lagi dan melakukan hal yang sama. Rasulullah saw juga memberinya. Keesokan harinya ia meminta-minta lagi kepada Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “aku tak memiliki apapun saat ini. Tapi ambillah apa yang kau mau dan jadikan utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya” Umar ra lalu berkata, “Wahai Rasulullah, janganlah memberikan sesuatu di luar batas kemampuanmu.” Rasulullah tidak menyukai perkataan Umar tadi. Tiba2 datang seorang laki2 dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullahjangan takut, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki2 tadi Rasulullah saw tersenyum, lalu beliau berkata kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku” (HR Turmudzi)

Mari, jangan khawatir dengan kemiskinan, kekurangan, atau semacamnya

nb: senyum adalah cara mudah untuk bersedekah :)

Kamis, 09 Juni 2011

Pilih Sendiri Caramu

“Al-ainu jauharotun.” Mata adalah permata. Begitulah pepatah bangsa Arab yang menggambarkan betapa sangat berharganya mata kita.
Ainun sangat mencintai dan selalu memberikan perhatian besar kepada suaminya. Ketika masih menjadi Menristek/Ketua BPPT, Habibie sering pulang terlambat dari kantor, biasanya bisa lewat dari pukul 22.00. Jika sudah terlambat seperti itu, Ainun menelepon langsung dari rumah mengingatkan agar Habibie segera pulang karena harus menjaga kesehatan. Habibie biasanya minta kepada sekretariat agar menjawab “Bapak sudah menuju lift”, padahal sebenarnya ia masih duduk di kursi dan meneruskan pekerjaan, tidak langsung pulang.
Begitulah hampir tiap hari. Hingga akhirnya Ainun mulai kritis.
Habibie terus mendampingi Ainun dalam sakitnya. Saat Ainun meninggal pun Habibie berada di sisinya. Presiden pertama era reformasi ini berusaha tabah dalam kehilangannya.
24 Maret lalu, saat BJ Habibie tiba di Jerman, ia ikut mengantar langsung sang istri ke RS Munich, Jerman. Dan sejak itu hingga Ainun meninggal, tidak pernah sekali pun Habibie meninggalkan istrinya.
Dalam sejarah, dunia mencatat banyak sekali romantika percintaan anak manusia. Banyak dari kita memang sering dibuat takjub dengan ulah manusia ketika sudah jatuh cinta. Ada yang rela berbuat ini, berbuat itu, berkata ini, berkata itu, tanpa banyak pikir panjang. Sekilas memang seperti tanda kesetiaan, tapi dibalik itu jika tidak hati-hati kadang ada juga kebodohan.
Kata mbak Ayatul Husna, cinta adalah kekuatan yang mampu mengubah duri menjadi mawar, cuka menjadi anggur, mengubah malang menjadi untung, mengubah sedih menjadi riang, mengubah setan menjadi nabi, mengubah iblis menjadi malaikat, mengubah sakit menjadi sehat, mengubah bakhil menjadi dermawan, mengubah kandang menjadi taman, mengubah penjara menjadi istana, mengubah amarah menjadi ramah, mengubah musibah menjadi anugerah.
Kata mbah Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan, dsb. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita, dsb. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan. Sternberg terkenal dengan teorinya tentang “Segitiga Cinta”. Segitiga cinta itu mengandung komponen : (1). Keintiman (Intimacy), (2). Gairah (Passion), dan (3). Komitmen.
Keintiman adalah elemen emosi, yang didalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust), dan keinginan untuk membina hubungan. Ciri-cirinya antara lain seseorang akan merasa dekat dengan seseorang, senang bercakap-cakap dengannya sampai waktu yang lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu. Gairah adalah elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual. Komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama.
Menurut Sternberg, setiap komponen itu pada tiap-tiap orang berbeda derajatnya. Ada yang hanya tinggi di gairah, tapi rendah pada komitmen. Sedangkan cinta yang ideal adalah apabila ketiga komitmen itu berada dalam proporsi yang sesuai pada suatu waktu tertentu. Misalnya pada tahap awal hubungan, yang paling besar adalah komponen keintiman. Setelah keintiman berlanjut pada gairah yang lebih besar (dalam beberapa budaya) harus disertai dengan komitmen yang lebih besar, misalnya melalui perkawinan.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, pada hubungan cinta seseorang sangat ditentukan oleh pengalamannya sendiri mulai dari masa kanak-kanak. Bagaimana orang tuanya saling mengekspresikan perasaan cinta mereka. Hubungan awal dengan teman-teman dekat, kisah-kisah romantis sampai yang horor, dsb. akan membekas dan mempengaruhi seseorang dalam berhubungan. Karenanya setiap orang disarankan untuk menyadari kisah cinta yang ditulis untuk dirinya sendiri.
Menurut tokoh psikolog John Alan Lee, sebenarnya cinta terhadap pasangan bisa dibagi jadi enam tipe:
1. EROS ( passionate, romantic love)
Ciri: tertarik pada seseorang karena fisiknya & dalam proses yang cepat. Cinta pada pandangan pertama termasuk tipe cinta ini.
2. LUDUS ( game-playing love )
Ciri: mempermainkan perasaan pasangan untuk kesenangan. Misalkan menggantungkan pacar atau selingkuh for fun. Bisa dibilang ini adalah tipe cintanya para playboy.
3. STORGE (friendship love )
Ciri: berawal dari persahabatan dan membuat kita merasa nyaman bersama pasangan kita.
4. PRAGMA ( logical love )
Ciri: cinta ini muncul karena kita memperhitungkan keuntungan dan kerugian jika menjalin cinta dengan orang itu. Misal kita menerima seorang wanita karena kita tahu dia bakal jadi juara dan jadi orang terkenal, atau karena ia memiliki sesuatu yang ingin kita miliki.
5. MANIA ( possesive, dependent love )
Ciri: posesif, cemburu berlebih, dan sangat manja terhadap pasangan.
6. AGAPE ( selfess love )
Ciri: selalu berkorban tanpa pamrih demi pasangannya. Pokoknya kebutuhan pasanganlah yang paling penting.
Setelah tahu sedikit tentang definisi cinta di atas, mari kita lihat bagaimana umat manusia mulai mengenal cinta kepada sesama manusia. Bagaimana seorang Adam AS merelakan salah satu tulang rusuknya demi mendapatkan sang kekasih hati. Lalu sayangnya Adam AS karena terlalu mencintai kekasih hatinya itu, ia mudah saja terbujuk untuk melanggar aturan dari Allah SWT.
Hawa berkata, “Adam, mari kita makan buah-buahan dari pohon abadi itu!” Adam AS berkata, “Hawa, Allah telah melarang kita untuk mendekati pohon itu.” Lalu Hawa mengulurkan tangannya untuk mengambil buah pohon itu. Ia mengambilnya dan memakannya. “Enak,” katanya. Lalu ia memberi Adam buah tersebut. Adam lupa petunjuk Tuhannya, ia pun memakannya.
Cinta yang memisahkan mereka dari surga, tapi cinta juga yang mempertemukan mereka meskipun terpisah dari Sarandib (di pulau Ceylon, sekarang dikenal dengan Srilanka) dan bukit Marwah, Makkah. Itulah awal kisah cinta umat manusia.
Cinta juga sering membuat orang jadi hilang kendali. Seperti Zulaikha, istri seorang Raja di Mesir kepada Yusuf AS yang saat itu sebagai budak di Mesir. Cinta pada pandangan pertama (EROS). Namun ketika Zulaikha mengejar Yusuf AS demi bisa berduaan dengannya hingga ia merobek baju Yusuf dari belakang Yusuf ternyata tidak tunduk kepadanya.
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” QS Yusuf:24
Lalu kita tengok juga kisah Nabi Ayyub AS. Tentang bagaimana Rahma (istrinya) rela menjual rambutnya sendiri demi mendapat uang untuk merawat Ayyub AS yang saat itu sedang diberi cobaan berupa sakit yang teramat parah. Sayangnya Rahma ternyata tak dapat mempertahankan kesetiaanya, hingga ia merasa putus asa dan mulai meninggalkan Ayyub AS. Lalu lihat juga sikap Ayyub AS yang menyiasati janji yang pernah ia katakan kepada Rahma bahwa jika ia sembuh nanti, Rahma akan ia dera 100 kali. Akhirnya karena rasa cintanya kepada Rahma, ia hanya mendera Rahma 1 kali, tapi dengan 100 buah lidi sekaligus.
Suatu hari Ibrahim AS, Sarah, dan Luth AS tiba di Mesir. Namun untuk bisa masuk, Ibrahim mesti menyerahkan sepuluh persen dari barang-barangnya kepada Raja Mesir. Setelah Ibrahim membayar, Al ‘Ashir (orang yang bertanggung jawab untuk menarik pajak sebesar seperlima dari pendapatan rakyat) mengizinkannya untuk masuk Mesir.
Al ‘Ashir melihat kecantikan Sarah dan ingin membawanya kepada Raja. Ibrahim AS menjadi marah, dan ia berkata kepadanya, “Aku akan berikan semua barangku, tetapi aku tak mengizinkan engkau untuk membawa Sarah!”
Ibrahim AS berkata kepada Al ‘Ashir, “Aku akan melawanmu untuk melindungi istriku.”
Di lain hari, Sarah, adalah satu-satunya istri Ibrahim AS yang sangat mencintai suaminya. Ia tidak ingin Ibrahim AS bersedih, oleh karena itu pada suatu sore ia bertanya pada Ibrahim AS, “Apakah engkau menginginkan seorang anak?” Ibrahim AS menjawab, “Itu tergantung pada kehendak Allah.”
Sarah adalah wanita yang bijaksana, maka ia pun mengatakan “Aku ingin mempunyai seorang bayi. Aku ingin merawatnya. Aku akan mencintainya, dan ia akan mencintaiku.” “Bagaimana itu dapat terjadi?” Tanya Ibrahim AS. Sarah menjawab, “Khalilullah, aku akan memberikan budak wanitaku, Hajar, kepadamu. Nikahilah ia. Semoga Allah akan memberikan seorang anak padame darinya.” Ibrahim AS lalu berkata, “Sarah, aku tidak ingin membuatmu bersedih karena aku.” “Khalilullah, aku tidak akan bersedih. Lebih dari itu, aku akan bahagia,” jawab Sarah.
Rasanya tidak sreg kalau belum mencuplik kisah dari suri tauladan kita, Rasulullah SAW.
Dalam satu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, “Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?”. Rasulullah SAW hanya tersenyum lalu berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti”
Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain.
Lalu suatu hari hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya”. Kemudian, istri-istri Nabi SAW itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.
Setelah mengetahui sedikit kisah-kisah cinta para nabi, sepertinya memang tak bisa dijelaskan dalam kajian psikologi barat. Tidak ada nabi yang mencintai dengan EROS, LUDUS, STORGE, PRAGMA, MANIA, maupun AGAPE. Cinta mereka benar-benar karena Allah.
Lalu jika kita diberi pilihan dan kesempatan, mau mencintai seperti apakah kita? Jika kita dalam posisi yang belum menikah, saya beri dua opsi; Mungkin anda pernah mendengar seorang remaja yang nekat bunuh diri disebabkan putus cinta, atau tertolak cintanya. Atau anda pernah mendengar kisah Qeis yang tergila-gila kepada Laila. Kisah cinta yang bermula sejak mereka bersama mengembala domba ketika kecil hingga dewasa. Akhirnya sungguh tragis, Qeis benar-benar menjadi gila ketika Laila dipersunting oleh pria lain. Itulah opsi pertama.
Atau anda ingin opsi kedua; Kita tahu kisah seorang Sayyididna Ali yang hingga pernikahannya dengan Fatimah, putri kanjeng nabi, ia tidak pernah menunjukkan atau memberitahukan rasa cintanya pada Fatimah kepada siapapun. Ia selalu menyembunyikannya hingga bahkan setan pun tak mampu mengetahui dan memnggodanya. Begitu pula dengan Fatimah. Padahal Ali dan Fatimah sudah saling menaruh hati satu sama lain semenjak kecil dan hal itu baru terungkap ketika mereka sudah menikah.
Bagaimana?

Selasa, 07 Juni 2011

Rajab untuk Ramadhan

Saya pikir setiap kita mungkin punya soundtrack ramadhan tersendiri. Sebelum membaca notes ini, saya sarankan untuk memasukkan dalam playlist lagu-lagu bernuansa ramadhan yang anda sukai untuk membangkitkan suasana Ramadhan.

Bismillah

Alhamdulillahi wa sholatu ala rosulillah, saat ini kita telah disampaikan pada bulan Rajab. Insya Allah kita semua berharap agar dipertemukan dengan Sya’ban, lalu Ramadhan. Bulan yang kita cintai dan kita nanti.

Rajab, adalah tempat kita mulai berlatih diri berpuasa bagi yang bulan-bulan sebelumnya tidak pernah puasa. Jangan terlalu optimis bahwa kemampuan lambung anda masih sehebat ramadhan sebelumnya. Semoga dengan berpuasa di Rajab ini dapat mendekatkan kita pada-Nya sekaligus melatih lambung kita tersayang.

Rajab, adalah tempat kita mempersiapkan agenda Ramadhan kita kelak. Barangkali kita akan mengikuti kepanitian yang sama dengan tahun lalu, atau mau pindah dari yang sebelumnya aktif di kampung lalu ke kampus atau sebaliknya. Atau Ramadhan yang akan datang akan dijadikan momentum pertama kita menjadi panitia Ramadhan. Yang jelas, menjadi panitia Ramadhan itu menyenangkan teman. Banyak momen tak terlupakan ketika menemani adik-adik ta’jilan, snack yang mungkin kekurangan dan harus membeli di toko sebelah secepatnya, menunggu ustadz, mencuci gelas atau piring di dapur, jalan-jalan selepas shubuh diantara sulutan petasan, berlomba-lomba memperbanyak tadarus, tidur di masjid bersama teman, keliling kampung membangunkan warga untuk sahur, mencari lampion untuk takbiran, dan masih banyak lagi momen-momen yang memang sepertinya bisa dilakukan kapan-pun, namun kita selalu berharap menjumpainya dalam balutan Ramadhan.

Rajab, selain melatih diri berpuasa, latih juga persiapan target kita di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan sebagai bulan yang setiap amal ibadah dilipatgandakan, tentunya membuat orang ingin beribadah semaksimal mungkin. Ada yang membuat target supaya dalam sebulan khatam al-qur’an, ada yang ingin menambah hafalan hingga sekian surah, ada yang ingin sholat 5 waktu berjamaah di masjid dan on time, ada yang ingin selalu bangun tiap malam untuk sholat minimal sekian raka’at, ada yang ingin menggiatkan sholat dhuha, ada yang ingin infaq/sedekah tiap harinya sekian rupiah, dan lain sebagainya. Berbagai target itu akan susah jika kita tidak terbiasa melakukannya. Rajab adalah momentum yang pas untuk memulainya sedikit demi sedikit. Yang perlu dicatat, setelah kita berhasil mendapatkan target di bulan Ramadhan, kita harus tetap mempertahankannya di bulan Syawal dan seterusnya. Hingga bulan Ramadhan tahun depan, jika dipertemukan kita meningkatkan lagi targetnya. Jika sebelumnya dalam sebulan bisa khatam 1 kali tadarus Al-Qur’an, tahun depan ditingkatkan lagi. Sehingga setiap tahun kita memiliki momentum khusus untuk meningkatkan kualitas diri, yakni Ramadhan Mubarok.

Rajab, kita mulai merencanakan agenda kita di bulan Ramadhan. Di bulan mulia itu tidak mungkin kita melewatinya dengan tanpa rencana. Cari tahu informasi agenda akademik di kampus/ sekolah/ atau di instansi manapun, perhatikan jadwalnya. Cari tahu agenda lain yang bisa diikuti, biasanya banyak kajian-kajian dimana-mana. Ada juga les bahasa arab, pesantren kilat, dan sebagainya. Maksimalkan saat-saat Ramadhan dengan kegiatan bermanfaat. Rencanakan sejak sekarang, termasuk yang paling sering adalah undangan untuk buka puasa bersama. Pilih prioritas anda karena sering dalam sehari ada banyak undangan buka bersama. Juga waktu dimana anda yang akan mudik mulai memesan tiket.

Rajab, diikuti Sya’ban, adalah tempat berlatih untuk Ramadhan. Ramadhan, tempat berlatih untuk setahun ke depan. Ramadhan bukan puncak dari ibadah kita, tapi sebuah kawah candradimuka guna melatih diri kita menjadi lebih baik untuk bulan-bulan setelah Ramadhan. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan esok, dan melewatinya dengan sempurna sehingga diri kita menjadi lebih baik.

Allahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana, wa balighnaa Ramadhan

Playlist saya ketika menulis ini:
Haddad Alwi - Puasa
Haddad Alwi feat Gita Gutawa – Salam Ramadhan
Haddad Alwi feat Anti – Marhaban yaa Ramadhan
Opick – Ramadhan Tiba
Repvblik – Hidupku di Jalan-Mu
Vagetoz – Kuatkan Aku
Snada – Belajar dari Ibrahim

Jumat, 20 Mei 2011

PERTANYAAN SEPASANG KEKASIH

PERTANYAAN SEPASANG KEKASIH
Oleh Qurotul Uyun Syarah Nadzam Ibnu Yamun
Kitab ini lazim ditemui di pesantren-pesantren tradisional salafiyah. Semoga bisa menjadi bahan untuk memperbaiki diri. Selamat menikmati

Bismillahirrohmanirrohim …..
Allohumma Sholly ‘Alaa Sayyidina Muhammad …..

Apa yang seharusnya diperbuat oleh seorang wanita terhadap calon suaminya?
Renungkanlah …. Laksanakanlah….

Sebuah nasihat sangatlah penting untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Janganlah kalian hanya bertanya tentang penghasilan, hobi atau dimana akan membangun rumah. Tanyakanlah hal-hal yg jauh lebih penting kepada calon suami.
Misalnya, sedalam apa cintanya kepada Allah …..

Berwudhu’-lah dulu, laksanakan shalat sunnat dua rakaat, mintalah Allah merengkuh anda dan mengendalikan lisan serta gerak-gerik anda. Ucapkanlah ta ’awudz, dan bismillah dengan jelas di hadapannya, lalu ajukan pertanyaan-pertanyaan dibawah ini sambil menggantungkan diri anda hanya kepada Allah yg telah menciptakan anda dan dia:

Dan tanyalah dia …..
1. Bagaimana anda pertama kali mengenal Allah? Tolong ceritakan sedetail mungkin…
2. Kapan pertama kali anda bertaubat yang sungguh-sungguh? Kalau boleh tahu, kesalahan apakah yang anda mintakan ampun kepada Allah waktu itu? Pernahkah anda mengulangi kesalahan itu? Apa yang akan mungkin membuat anda terjerumus lagi pada kesalahan itu di masa mendatang? (jika dia menganggap itu aib yang anda tak perlu tahu, jangan sekali-kali anda mendesaknya untuk menjawab. Tunjukkan rasa hormat anda atas pilihannya untuk tidak menjawab).
3. Adakah kesalahan kepada Allah yang selalu anda lakukan dan sampai hari ini belum anda mintakan ampun kpada Allah? Kalau boleh tahu kesalahan apakah itu? (Begitu juga yang ini)
4. Seberapa sering anda ingkar kepada Allah terutama kalau sedang sendirian? Dalam bentuk apa keingkaran anda itu? (Begitu juga yang ini)
5. Tolong ceritakan bagaimana hubungan anda dengan Allah saat ini.
6. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal mengikuti shalat fardhu berjamaah sesudah adzan berkumandang? Kenapa?
7. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal membaca Quran minimal 50 ayat per hari? Kenapa?
8. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal bangun shalat malam/ tahajjud?
9. Dalam seminggu terakhir, Berapa hari yang anda lewatkan tanpa bershodaqoh atau berinfaq untuk orang miskin dan sabilillah?
10. Tolong sebutkan 5 langkah pertama dan yang akan anda lakukan secara istiqomah untuk membangun rumah tangga yang taat kpada Allah dan Rasul-Nya? Kenapa anda memilih ke-5 langkah tersebut ? Bagaimana cara anda melaksanakannya?
11. Saya mau buka rahasia. Sebenarnya, saya sudah memiliki seorang laki-laki yang sangat saya cintai. Orangnya kalem, pintar, ganteng, dan sangat sopan. Hanya kepada dia saya memberikan cinta saya lebih dari kepada lelaki lain. Bersediakah anda mengizinkan saya melanjutkan cinta saya kepada lelaki ini, kalau anda suami saya?
(Biarkan dia salah tingkah dulu. Mungkin juga dia akan menjawab secara emosional. Perhatikan mimik wajahnya, wajah seperti itulah yang akan anda lihat setiap kali kelak anda bertengkar dan mengingatkan dia dengan ayat Allah atau hadist Rasulullah. Setelah anda merekam mimik wajahnya, barulah anda katakan…) laki-laki itu bernama Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana caranya supaya saya semakin mencintai beliau, lebih dari saya mencintai suami saya?
12. Apa saja rencana anda dalam menghidupkan sunnah nabi Muhammad Shallallohu alaihi wa sallam dalam rumah tangga yang akan anda bangun? Bagaimana anda akan melaksanakannya?
13. Ada 3 hal yang insya Allah akan selalu saya perbaiki dalam diri saya secara bersungguh-sungguh sampai saya mati yaitu ibadah, ilmu, dan amal shalih saya. Apa saran anda untuk saya?
14. Tentang Ibu anda, ceritakan sebanyak mungkin hal penting yang menurut anda perlu saya ketahui tentang beliau?
15. Sejak anda dewasa, pernahkah anda membuat beliau sangat marah? Apa sebabnya? Apa yang anda lakukan setelah itu?
16. Dalam seminggu terakhir, berapa kali anda mencium tangan dan memeluknya dengan mesra? Kalau anda tinggal kota dengan beliau, berapa kali anda menelponnya dalam seminggu terakhir? Apa kata-kata yang paling sering anda sampaikan ke beliau sebelum anda menutup telepon?
17. Jika Ibu anda melakukan kesalahan, apa yang anda lakukan untuk mengingatkannya?
18. Menurut anda, adakah hal tertentu dari ibu anda, apakah itu perkataan maupun perbuatan yang sangat mempengaruhi cara anda memperlakukan wanita, terutama kelak isteri anda? Apakah itu?
19. Jika kelak terjadi pertengkaran atau ketegangan antara Ibu dan isteri anda, apa yang akan anda lakukan?
20. Tentang Ayah anda, ceritakan hal-hal penting yang menurut anda perlu saya ketahui tentang beliau?
21. Apa saja yang menurut anda bisa menghancurkan sebuah hubungan suami isteri? Apa rencana anda untuk menghindarinya?
22. Apa saja menurut anda bisa menggagalkan sebuah rumah tangga dalam menghasilkan anak-anak yang shalih? Apa rencana anda untuk menghindarinya?
23. Tentang mencari nafkah, kalau pendapatan ekonomi rumah tangga anda kurang memadai, jenis pekerjaan apa yg sebaiknya dilakukan oleh isteri anda utk membantu mencari nafkah?
24. Ta ’adud ( menikahi lebih dari satu isteri) merupakan salah satu aturan Allah Yang Maha Sempurna, berikut syarat dan akibat -akibatnya baik untuk laki-laki dan perempuan. Apa pandangan anda tentang ta ’addud?
25. Bagaimana mati yang anda inginkan? Apa rencana-rencana anda untuk itu?

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta ’ala membuka segala sesuatu yang paling mendasar, untuk kalian ketahui tentang dia,lewat pertanyaan-pertanyaan diatas.

Tetapi ada satu hal kecil yang perlu kalian lakukan sebelum kalian bertemu dia.
Pergilah kedepan cermin, pandangilah bayangan mata anda, lalu tanyakan satu persatu pertanyaan diatas tadi kepada diri anda sendiri, dan jawablah dengan jujur.
Wallohu A’lam

CATATAN UNTUK ORANG SAKIT

Note untuk orang sakit

Sering kita menjenguk orang sakit, namun kita tidak tahu bagaimana doa yang akan kita panjatkan. Atau mungkin kita sendiri yang sakit dan butuh untuk berdoa kepada Allah. Berikut kita ulas sedikit tentang orang sakit. Saya ambil sebagian besar sumber dari kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi.

Sebagaimana yang telah diterangkan dalam hadits Nabi Shallallahu alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra. artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam apabila ia menempati tempat tidurnya, maka beliau himpunkan kedua telapak tangannya kemudian ditiupnya seraya membaca pada kedua telapak tangannya tersebut “ QUL HUWALLAAHU AHAD”, “QUL A’UUDZU BIRABBIL FALAQ” dan “QUL A’UUDZU BIRABBIN NAAS”. Kemudian keduanya disapukan ke badan sedapat mungkin, dimulai dari kepala dan mukanya dan terus ke seluruh tubuhnya bagian muka. Dan hal itu beliau lakukan sebanyak tiga kali. Aisyah ra. berkata, “Manakala beliau (Nabi Shallallahu alayhi wa sallam)merasa sakit diperintahkannya aku berbuat demikian kepadanya.”

Dalam riwayat shahih lainnya juga telah diterangkan yang artinya sebagai berikut;

…. Atau Nabi Shallallahu alayhi wa sallam meniupkan kepada dirinya ketika beliau sakit menjelang wafatnya surat-surat Al Mu’awwidzah itu. Aisyah ra. berkata. “Maka manakala bertambah parah, maka akulah yang meniupnya dengan membaca surat-surat tersebut dan kuusapkan badannya dengan tangannya untuk mengambil berkah ”.

Riwayat selanjutnya dari Imam Abu Dawud yang bersumber dari Aisyah ra. yang artinya sebagai berikut:

“Sesungguhnya apabila seseorang merasakan ada sesuatu yang sakit atau ada sesuatu yang bengkak atau luka (maka) Nabi Shallallahu alayhi wa sallam membaca seperti yang demikian ini”. Sufyan bin ‘Uyainah perawi hadits ini meletakkan ibu jarinya ke tanah kemudain mengangkatnya seraya membaca:

BISMILLAAHI TURBATU ARDHINAA, BIRIIQATI BA’DHINAA YASYFI BIHII SAQIIMUNAA BI-IDZNI RABBANA

(Dengan menyebut asma Allah, debu bumi kami, dengan air ludah sebagian kami, karenanya sembuh orang yang sakit diantara kami dengan izin Tuhan kami)

Para Ulama berkata bahwa yang dimaksud dengan air ludah adalah air ludah yang dihembuskan. Dan yang dimaksud disini adalah air ludah manusia.

Dalam sebuah riwayat yang juga bersumber dari Aisyah ra. diterangkan yang artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya Nabi Shallallahu alayhi wa sallam mengungjungi keluarganya (yang sedang sakit), beliau sapukan (kepadanya) tangan kanannya seraya berdoa:

“ALLAAHUMMA RABBAN NAASI AZHIBIL BA’SA ISYFI ANTASY SYAAFII LAA SYIFAA-A ILLAA SYIFAA’UKA SYIFAA-AN LAA YUGHAADIRU SAQAMA”

(Wahai Tuhanku, Tuhan (yang memelihara) manusia, hilangkan kesusahan ini, sembuhkan dia. Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada suatu penyembuhan kecuali penyembuhan-Mu, sembuh yang tidak diiringi sakit lagi)

Dalam riwayat lain diterangkan yang artinya: “Beliau (Nabi Shallallahu alayhi wa sallam) mengadakan penyembuhan seraya berdoa:

“AMSIHIL BA’SA RABBAN NAASI BIYADIKASY SYIFAA-U LAA KAA SYIFA LAHU ILLA ANTA”

(hapuskan kesusahan ini, wahai Tuhan (yang memelihara) manusia, ditangan-Mulah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat membuka jalan keluar baginya kecuali Engkau)

Imam Bukhari juga telah meriwayatkan dari Anas ra. ia berkata kepada Tsabit ra. yang artinya sebagai berikut:

Maukah kubacakan kepadamu mantra penyembuhan yang dibaca Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam?” jawabnya, “tentu saja”. Ia berkata. “Bacaannya adalah sebagai berikut

“ALLAAHUMMA RABBAN NAASI MUDZHIBAL BA’SI ISYFI ANTASY SYAAFII LAA SYAAFIYA ILLAA ANTA SYIFAA-A LAA YUGHAADIRU SAQAMAA”

(Wahai Tuhanku, Tuhan (yang memelihara) manusia, yang menghilangkan kesusahan (sakit) ini, sembuhkan ia, Engkaulah yang menyembuhkan. Tidak ada yang dapat menyembuhkan kecuali Engkau, sembuh yang tidak dapat meninggalkan (diiringi) sakit lain lagi)

Sedang Imam Muslim meriwayatkan dari Utsman bin Abil Ash ra. yang artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya ia mengadu kepada Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam tentang sakit yang ia rasakan pada tubuhnya, maka Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam bersabda kepadanya, “letakkan tanganmu di atas bagian tubuhmu yang sakit, lalu bacalah “BISMILLAH” sebanyak tiga kali, dan bacalah:

“A’UUDZU BI’IZZATILLAAHI WA QUDRATIHII MIN SYARRI MAA AJIDU WA UHAADZIRU”

(Aku berlindung (kepada Allah) dengan kemuliaan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan yang kudapatkan dan kutakutkan adanya) sebanyak tujuh kali

Juga riwayat Imam Muslim yang bersumber dari Sa’d bin Abi Waqash ra. ia berkata yang artinya sebagai berikut:

Nabi Shallallahu alayhi wa sallam mengunjungi aku (sewaktu sakit), lalu beliau membaca:

“ALLAAHUMMA ASYFI SA’DAN ALLAAHUMMA ASYFI SA’DAN ALLAAHUMMA ASYFI SA’DAA”

(Wahai Tuhanku, sembuhkanlah Sa’d, wahai Tuhanku, sembuhkanlah Sa’d, wahai Tuhanku, sembuhkanlah Sa’d)

Sementara Imam Abu Dawud dan Turmudzi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi Shallallahu alayhi wa sallam, beliau bersabda yang artinya sebagai berikut:

Barang siapa menjenguk orang sakit yang tidak membawa umur (penyakitnya tidak membawa kematian) lalu dibaca tujuh kali disampingnya:

“AS-ALULLAAHAL ‘AZHIM, RABBAL ‘ARSYIL ‘AZHIIM, AN YASYFIYAKA”

(Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhan (pemelihara) Arsy yang agung, semoga Dia menyembuhkanmu)

Imam Turmudzi menganggap bahwa hadits tersebut diatas adalah hasan, sedang Al Hakum Abdillah menyebutkan di dalam kitabnya “Al Mustradak ‘Alash Shahihain” bahwa hadits tersebut adalah shahih ‘Alasy syarthil Bukhari (Shahihnya karena perawi-perawi hadits tersebut adalah perawi-perawi hadits Bukhari)

Imam Abu Dawud juga telah meriwayatkan sebuah hadits yang tidak dianggapnya sebagai hadits dhoif dari Abdullah bin ‘Amir bin Al Ash ra. ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam bersabda yang artinya sebagai berikut:

Apabila seorang lelaki datang mengunjungi orang yang sedang sakit, maka hendaklah ia (berdoa) membaca:

“ALLAAHUMMA ASYFI ‘ABDAKA YANKA-U LAKA ‘ADUWWAN AU YAMSYI LAKA ILAA SHAALATIN”

(wahai Tuhanku, sembuhkanlah hamba-Mu ini, ini akan berjihad melawan musuh (dengan gagah) karena Engkau atau akan berjalan menuju shalat karena Engkau)

Sedang Imam Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits yang dianggapnya sebagai hadits hasan shahih dari Ali ra. ia berkata yang artinya sebagai berikut:

Ketika aku sedang sakit, maka lewatlah Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam yang kebetulan aku sedang membaca:

“ALLAAHUMMA IN KAANA AJALII QAD HADHARA FA-ARIHNII WA IN KAANA MUTA-AKHKHIRAN FARFA’NII WA IN KAANA BALAA-AN FASHABBIRNII”

(wahai Tuhanku, jika sekiranya ajalku sudah dekat waktunya, maka wafatkanlah aku untuk istirahat, tapi jika ajalku itu masih lama datangnya, maka angkatlah (derajatku) dan jika ia adalah merupakan suatu cobaan, maka jadikanlah aku sabar menghadapinya).

Maka Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam bersabda, “Bagaimana yang kamu ucapkan tadi?”. (Perawi berkata), “Maka ia pun (Ali kw) mengulang bacaan itu kepada Nabi Shallallahu alayhi wa sallam. Lalu Nabi Shallallahu alayhi wa sallam memukulnya dengan kaki seraya membaca:

“ALLAAHUMMA ‘AAFIHII”

(wahai Tuhanku, selamatkanlah dia), atau (Syu’bah, salah seorang perawi hadits ini ragu-ragu), “…ASYFIHII” (sembuhkanlah sakitnya)”

Ali kw. ia berkata, “Lalu setelah itu aku tidak merasakan sakit lagi”.

Juga riwayat Imam Turmudzi bersama Ibnu Majah dari Abu Sa’d Al-Khudri dan Abu Hurairah ra. yang artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya mereka berdua menyaksikan (hadir) dihadapan Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam, bahwa beliau bersabda “Barangsiapa membaca “LAA ILAAHA ILLALLAAHU WALLAAHU AKBAR”.Tuhannya membenarkan ucapannya, lalu berfirman, “LAA ILAAHA ILLAA ANA WA ANA AKBAR”. Dan apabila ia membaca “LAA ILAAHA ILLALLAAHU LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU”. Dia (Allah) pun berfirman, “LAA ILAAHA ILLAA ANA MULKU WA LIL HAMDU”. Dan jika ia membaca “LAA ILAAHA ILLALLAAHU LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAH”. Dia (Allah) berfirman “LAA ILAAHA ILLAA ANA WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BII”. Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam bersabda. “Barangsiapa membacanya ketika ia sakit lalu meninggal dunia, maka api neraka tidak akan menjilatnya

Sementara Imam Muslim, Turmudzi, Nasa’I, dan Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih yang juga bersumber dari Abu Sa’d Al Khudri ra. yang artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya Jibril kepada Nabi Shallallahu alayhi wa sallam lalu berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau sedang sakit?”. Nabi Shallallahu alayhi wa sallam menjawab “ya, benar”. Jibril membaca:

“BISMILLAAHI ARQIIKA MIN KULLI SYAI-IN YU’DZIIKA MIN KULLI NAFSIN AU’AINII HAASIDIN ALLAAHU YASYFIIKA BISMILLAAHI ARQIIKA”

(Dengan menyebut asma Allah, kulakukan penyembuhan kepadamu dari tiap-tiap sesuatu yang mengganggumu, dari kejahatan tiap-tiap diri dan lirikan orang yang dengki. Allah-lah yang menyembuhkanmu. Dengan menyebut asma Allah aku laksanakan penyembuhan kepadamu)

Imam Turmudzi menerangkan bahwa hadits tersebut adalah hasan shahih.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. yang artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu alayhi wa sallam datang mengunjungi seorang arab badui yang sedang sakit. Ia (perawi) berkata, “Apabila Nabi Shallallahu alayhi wa sallam datang mengunjungi orang yang sedang sakit, beliau mengucapkan, “Ini tidak apa-apa, semoga baik insya Allah

Sedang Ibnu Sunni meriwayatkan dari Anas ra. artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya Nabi Shallallahu alayhi wa sallam datang mengunjungi seorang arab badui sewaktu ia sakit panas (badannya) lalu bersabda, “Ini adalah kaffarah (penebus dosa) dan pensucian diri dari dosa

Juga riwayat Ibnu Sunni menurut lafazh Imam Turmudzi dari Abu Umamah ra. ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam bersabda yang artinya sebagai berikut:

Cara yang paling baik sewaktu mengunjungi orang yang sedang sakit itu adalah seorang dari kalian meletakkan tangannya di atas dahi orang itu atau diletakkan diatas tangannya, lalu bertanya (kepadanya) tentang bagaimana keadaannya

Dalam riwayat Ibnu Sunni yang lain diterangkan sebagai berikut:

Sebagian dari kesempurnaan cara mengunjungi orang yang sedang sakit adalah dengan meletakkan tanganmu diatas (badan) orang yang sedang sakit itu, lalu bertanya, “bagaimana keadaanmu di waktu pagi dan sore?”.

Imam Turmudzi menerangkan bahwa sanadnyya bukan yang di atas itu.

Ibnu Sunni juga telah meriwayatkan dari Salman ra. ia berkata yang artinya sebagai berikut:

“Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam mengunjungi aku ketika sedang sakit, lalu beliau bersabda (mendoakan):

“YAA SALMANU SYAFALLAAHU SAQAMAKA WA GHAFARA DZANBAKA WA‘AAFAKA FII DIINIKA WA JISMIKA ILAA MUDDATI AJALIKA”

(Wahai Salman, semoga Allah menyembuhkan sakitmu, mengampuni dosamu dan menyelamatkan kamu dalam beragama serta selamat dirimu sampai hari wafatmu).

Riwayatnya pula yang bersumber dari Utsman bin Affan ra., ia berkata yang artinya sebagai berikut:

Ketika aku sedang sakit, datanglah Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam mengunjungi aku, maka pada suatu hari beliau membaca doa perlindungan untukku:

“BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM. U’IIDZUKA BILLAAHIL AHADISH SHAMADIL LADZII LAM YALID WALAM YUULAD WALA YAKUL LAHU KUFUWAN AHADUN MIN SYARRI MAA TAJIDU”

(Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang. Aku memohonkan perlindungan bagimu kepada Allah yang Maha Esa, yang Maha Diharapkan, yang tiada beranak, dan tiada pula diperanakkan dan tiada sesuatu yang sebanding dengan Dia, dari kejahatan yang sedang kamu dapatkan).

Lalu Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam berdiri meninggalkan tempat, beliau bersabda, “Wahai Utsman, mohonlah perlindungan dengan kalimat (seperti) itu tadi. Kapan kamu memohon perlindungan buatlah kalimat seperti itu

Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Ibnu Abbas ra. yang artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam mengajarkan kepada mereka bacaan (doa) ketika sakit dengan segala macam penyakit, dank arena panas badan, yaitu:

“BISMILLAAHIL KABIIRI NA’UUDZU BILLAAHIL ‘AZHIIM MIN SYARRI ‘IRQIN NA’AARIN WA MIN SYARRI HARRIN NAAR”

(Dengan menyebut asma Allah yang Maha Besar, aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dari sakitnya darah mengalir (luka) dan dari buruknya panas api neraka)

Imam Nawawi ra. menjelaskan bahwa sebaiknya orang yang sedang sakit ini membaca surat Al Fatihah, Al Ikhlas, dan Mu’awwidzatain yang kesemuanya itu diperuntukkan bagi dirinya, setelah itu ditiupkan ke telapak tangannya sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya.

Hendaknya orang yang sakit tidak hanya didoakan, namun juga diberi motivasi.

Sebagaiman sabda Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam yang telah diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang dha’if (tapi menurut Imam Nawawi boleh digunakan, karena merupakan fadha’ilul amal) dari Abu Sa’d Al Khudri ra. sebagai berikut:

Apabila kalian datang mengunjungi orang sakit, maka hiburlah ia dengan lanjut usia. Memang hiburang itu tidak akan menolak (ketentuan Allah) sedikit pun dan (sebaliknya) menyenangkan jiwa (hati)nya”.

Sebenarnya hadits tersebut telah dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas yang terdapat pada bagian “Doa Bagi Orang Yang Sakit”: yang dibaca disamping orang-orang yang sakit…, yakni, “Ini tidak apa-apa, malah mensucika (dosa), insya Allah”.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Ibnu Sunni dengan sanad dha’if dari Anas ra. ia berkata yang artinya sebagai berikut:

Nabi Shallallahu alayhi wa sallam datang menjenguk seorang laki-laki (yang sedang sakit) lalu beliau bersabda, “Apakah ada sesuatu yang kau inginkan, ingin roti?”. Orang itu menjawab, “Ya”, lalu Nabi Shallallahu alayhi wa sallam mencarikannya untuk orang itu”.

Imam Turmudzi dan Ibnu Majah juga telah meriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra. ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam bersabda sebagai berikut:

Janganlah kalian memaksakan suatu makanan kepada orang-orang sakit diantara kalian, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberi makan dan minum kepada mereka

Imam Turmudzi menganggap bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan.

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Zubair yang meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi Shallallahu alayhi wa sallam bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat diberikan, dengan izin Allah, penyakit itu akan sembuh

Dalam Shahihain (Shahih Bukhari-Muslim) dari Ata’ yang meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Nabi Shallallahu alayhi wa sallam bersabda, “Allah tidak menurunkan suatu penyakit tanpa menurunkan obatnya”.

Dalam Musnad (oleh Imam Ahmad bin Hanbal), dari Ibnu Mas’ud ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah menurunkan obatnya. Orang yang mencari obatnya, ia pasti mendapatkannya, sedangkan orang yang mengabaikannya, ia tidak akan mendapatkannya

Demikian berbagai petunjuk dari Al Hadi Al Musthofa Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam, semoga dapat membantu kita yang sedang sakit atau kerabat yang sedang sakit. Mohon maaf bila terlalu panjang, mohon maaf bila ada terjemahan yang salah, mohon maaf bila tidak mencantumkan huruf arabnya (belum bisa mengetik menggunakan font arab). Tulisan ini pada Microsoft word 2007 menghabiskan 10 halaman A4 dengan spasi 1,5, margin APA, font 12.

Wallahul muwaffiq